Type something and hit enter

Pages

On
advertise here
High gain high risk, low gain low risk. Prinsip investasi ini juga berlaku dalam agama, dimana pahala yang tinggi selalu berbanding lurus dengan risiko atau beban yang harus ditanggung. Untuk mendapatkan pahala yang besar, dapat dipastikan perlu pengorbanan yang besar pula—dengan factor X, kecuali Allah SWT menghendaki lain.

Ini pula yang berlaku untuk shalat shubuh. Anda seperti juga kami akan sulit membantah mengenai sulutnya bangun shalat shubuh. Betapa banyak orang bisa bangun untuk sekedar nonton bola, atau begadang sepanjang malam namun tak kuasa menahan kantuk 10 menit saja menjelang fajar tiba. Begitulah, big reward big effort too.

Mengapa shubuh begitu susah dan besar manfaatnya. Mari kita bahas satu persatu dari sumber pelbagai blog, kami disini hanya sekedar merangkumnya saja:

KEUTAMAAN SHALAT SHUBUH

  1. Ciri-ciri pembeda antara munafik dengan mukmin. Hadisnya sebagai berikut:

 “Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh”(HR.Ahmad)

Shalat Shubuh yang utama ini, akan semakin utama bila dilaksanakan secara berjamaah. Selain menandai orang munafik, shubuh juga menjadi tolok ukur kejujuran dan keimanan seorang muslim. Ibnu Umar R.A pernah berkata:

“Ketika kami tidak melihat seseorang dalam shalat subuh atau isya’, kami langsung berprasangka buruk kepadanya.”

  1. 2.      Melapangkan rizki

Anda tahu nasehat orang tua dulu, jika jangan bangun kesiangan nanti rezeki dipatok ayam? Nasehat itu benar dan bahkan mendapatkan pembenaran oleh islam. Dalam salah satu kisah, Nabi SAW setelah shalat subuh mendapati puterinya Fathimah ra sedang tidur. Maka beliau pun membalikkan tubuh Fatimah dengan kaki beliau, kemudian mengatakan kepadanya : “Hai Fathimah, bangun dan saksikanlah rizki Rabb-mu karena Allah membagi-bagikan rizki para hamba antara shalat subuh dan terbitnya matahari.”

  1. 3.      Mendapatkan Bakingan dari Allah

Perhatikan hadist riwayat Muslim berikut:

“Barang siapa yang melaksanakan shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah, maka jangan sampai Allah menarik kembali jaminan-Nya dari kalian dengan sebab apa pun. Karena siapapun yang Allah cabut jaminan-Nya darinya dengan sebab apa pun, pasti akan tercabut. Kemudian Allah akan telungkupkan wajahnya dalam neraka jahannam.”

Makna hadist di atas sugguh jelas. Allah memberikan jaminan kepada pelaku shalat Shubuh dengan perlindungan, penjagaan, dan pemeliharaan dari-Nya.

  1. 4.      Pahalanya setara halat malam semalam suntuk.

Perhatikan hadist berikut:

”Barang siapa yang melaksanakan shalat isya’ secara berjamaah maka ia seperti shalat malam separuh malam. Dan barang siapa melaksanakan shalat subuh secara berjamaah maka ia seperti shalat malam satu malam penuh.” (HR.Muslim)

Meskipun begitu, jangan ditafsirkan keutamaan shalat subuh ini dengan tidak perlu menunaikan shalat malam. Bila kita bisa menjalankan keduanya, sungguh nikmat Allah tiada tara.

  1. 5.      Menjauhkan dari api neraka.

Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk neraka, orang yang melaksanakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya.” (HR.Muslim)

Ini adalah ketetapan Nabi yang mulia, bahwa siapa yang memelihara pelaksanaan shalat subuh dan ashar maka dia tidak akan masuk neraka dengan izin Allah SWT.

  1. 6.      Bersama Asar, bisa membuat kita masuk surga

Nabi SAW bersabda, “Siapa yang melaksanakan dua shalat bardain dia masuk syurga” (HR.Bukhari).

“Malaikat-malaikat siang bergantian mendampingi kalian dengan malaikat-malaikat malam, dan mereka berkumpul pada waktu shalat subuh dan ashar setelah itu malaikat yang semalaman menjaga kalian naik ke langit. Lalu Allah bertanya kepada mereka – dan dia lebih tahu tentang mereka – ,’Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaku?’ Mereka menjawab,’Kami menginggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datang kepada mereka ketika mereka shalat’” (HR.Bukhari)

Shalat bardain adalah shalat subuh dan ashar. Disebut Al Bardain (dua waktu dingin) karena keduanya dilaksanakan pada waktu dinginnya siang, tepatnya pada kedua ujung siang ketika suasana teduh dan tidak ada terik panas.

Untuk diketahui ada lima malaikat yang menjaga kita di waktu malam, dan lima malaikat yang menjaga di waktu siang. Pada waktu shubuh dan asar itulah shif pergantian malaikat yang menjaga kita. Tentu pada waktu itu, sebagaimana Allah menyatakan bahwa tindak tanduk manusia akan dicatat, pada waktu akhir pergantian itulah amat penting kita mendapatkan nilai catatan yang baik.

Mengapa asar dan shubuh sangat utama, renungkan saja bagaimana susahnya menjalankan kedua shalat ini. Biasanya, banyak muslimin yang menunda-nunda shalat asar misalnya sampai menekati maghrib. Ini terjadi karena memang jam asar berlangsung ditengah jam kerja.

  1. 7.      Kunci kemenangan

“Bahwa Rasulullah apabila hendak menyerbu suatu kaum, beliau menundanya hingga tiba waktu subuh.” (HR Bukhari)

Mengenai shalat dua rakaat sunah sebelum subuh Rasulullah bersabda, “Dua rakaat itu lebih aku sukai daripada dunia seluruhnya.” (HR.Muslim)

dah sholat

MENGAPA SUSAH BANGUN SHUBUH

Pertama, memakan makanan haram

Rasulullah SAW bersabda, “Ibadah  yang disertai dengan memakan (makanan) yang haram sama saja seperti (mendirikan) bangunan di atas pasir” (Al-Bihar 103 : 16).  Mengkonsumsi makanan yang haram dapat menimbulkan bahaya bagi tubuh. Bahaya paling besar lantaran makanan haram, dari sisi individu dan sosial, adalah kehancuran dan kemerosotan akhlak.

Al-Qur’an menerangkan, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah: 188)

Rasulullah saww bersabda, “Allah melaknat pemberi suap, penerima suap, dan perantara di antara keduanya.” Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Memakan (makanan yang) haram memiliki banyak jenis.” Ya, lelaki dan wanita yang berzina, juga pemakan suap, termasuk kategori orang yang memakan (makanan) haram. Imam Ja’far al-Shadiq as melanjutkan, “Adapun suap dalam masalah hukum adalah kekafiran terhadap Allah yang Mahaagung.”

Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Tidak ada ibadah yang lebih utama daripada menjaga kehormatan perut dan kemaluan.” Imam al-Sajjad as berkata, “Hak perut Anda adalah bahwa Anda tidak menjadikannya sebagai tempat penampungan makanan haram.”

Rasulullah saww bersabda, “Ada 3 perkara yang saya takutkan menimpa umat saya, yaitu kesesatan setelah memperoleh petunjuk, fitnah-fitnah yang menyesatkan, serta syahwat perut dan kemaluan.”

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang penghidupannya dari harta yang haram, maka Allah  tidak  menerima sedekahnya,  tidak  menerima amal memerdekakan budaknya, tidak juga menerima hajjinya dan umrahnya dan Allah mencatatnya amalnya yang banyak dengan  kebatilan dan  tiada tersisa amalnya setelah kematiannya  sehingga  akhirnya ia  digiring ke neraka. Tetapi jika  ia meninggalkan usaha  haramnya itu karena takut kepada Allah,  maka (Allah) masukkan ia ke dalam cinta-Nya dan rahmat-Nya dan diperintahkan kepadanya untuk masuk ke surga” [102]

Tidak shalat malam

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur. Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!”. Jika dia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)

Dari Abu Wa’il, dari Abdullah, beliau berkata, “Ada yang mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa terdapat seseorang yang tidur malam hingga shubuh (maksudnya tidak bangun malam, pen). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan : “Demikianlah setan telah mengincingi kedua telinganya.” (HR. An Nasa’i no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1330. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 640 mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Shalat tahajjud membuat kita bisa sedikit memastikan shalat shubuh sudah ditangan. Ini karena biasanya setan seperti dikemukakan Nabi SAW selalu membisikikan ketelinga kita “Malam masih panjang, tidurlah!” setiap kali akan bangun. Benar tidak? Bisikan itu kadang membuat kita hanya menggeser badan, dan lalu tidur lagi. Beda urusannya ketika kita bangun dan shalat malam, maka hilanglah ikatan setan.

Sementara untuk mengindarikan diri dari ‘dikencingi’ setan perlu kiranya kita berdoa sebelum dan sesudah ditidur. Berkut doanya,
Sebelum Tidur Membaca Doa :

bismikallahumma ahya wa amutu

Artinya :

Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan mati

Sesudah Bangun Tidur Membaca Doa :

alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihin nusyur

Artinya :

Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit

Ketiga, Sering begadang.

Begadang bisa menyebabkan lelah dan ngantuk di pagi harinya. Cara mengatasinya adalah dengan tidur di awal malam. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat Isya’ dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568).

Keempat, Kebiasaan.

Ini juga adalah sebab orang sering tidur pagi karena kesehariannya memang seperti ini. Selepas shalat shubuh, kebiasaannya adalah menghampiri kasur, mengambil selimut dan bantal, sehingga pulas tidur hingga matahari meninggi lalu beranjak kerja atau kuliah. Orang yang punya kebiasaan seperti ini telah hilang keberkahan dari dirinya di waktu pagi.

Cara mengatasinya dengan bersungguh-sungguh menghilangkan kebiasaan buruk tersebut dan senantiasa dibarengi dengan meminta tolong pada Allah. Allah Ta’ala berfirman, artinya : ”Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di dalam jalan Kami, maka sungguh akan Kami tunjukkan mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ‘Ankabut : 69).

Dari Abu Wa’il, dari Abdullah, beliau berkata, “Ada yang mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa terdapat seseorang yang tidur malam hingga shubuh (maksudnya tidak bangun malam, pen). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan : “Demikianlah setan telah mengincingi kedua telinganya.” (HR. An Nasa’i no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1330. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 640 mengatakan bahwa hadits ini shohih).

kesiangan

TIPS BANGUN SUBUH

(Buku Misteri Shalat Subuh, Karya Dr.Raghib As Sarjani)

Mengetahui keutamaan shalat Subuh bukan sekedar ilmu belaka. Tapi kita berusaha untuk menerapkan syariat Allah ‘Azza wa Jalla sekuat tenaga; untuk menjaga kewajiban yang Allah tetapkan; dan untuk meneladani salafu al-shâlih yang memahami syariat Islam dengan baik dan benar.

Kita ingin menjadi seperti Umar, Anas, Shakr, Nu’man dan lainnya dalam memandang pentingnya shalat Subuh berjamaah, dan dalam pandangan mereka terhadap qânun Allah ‘Azza wa Jalla...

Untuk itu, dalam tulisan ini saya menyebutkan beberapa sarana yang mendukung shalat Subuh. Bila ada sarana selain yang disebut di sini maka boleh-boleh saja. Karena perbedaan itu indah. Maka setiap kita berusaha untuk menemukan sarana yang paling baik untuk membantunya agar mampu menjalankan syariat Allah secara kaffah. Kita memohon kepada Allah al-taufîq dan al-qabûl..

Pertama: IkhlasIkhlas merupakan sarana yang paling penting dalam membantu kita untuk terbangun dan melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Tanpanya maka akan sangat sulit sekali. Karena—seperti yang kita bahas sebelumnya—shalat Subuh merupakan ujian untuk mengetahui perbedaan antara mukhlishîn dan munâfiqîn.

Meninggalkan shalat Subuh berjamaah bukan penyakit, tapi ia merupakan penyebab penyakit. Sedangkan penyakit itu adalah bahwa Anda memandang Allah dengan pandangan yang rendah. Anda tidak mementingkan-Nya; Anda tidak ikhlas untuk-Nya; Anda tidak mempedulikan perintah-Nya; Anda tidak takut akan azab pedih yang Allah janjikan bagi orang yang tidak melaksanakan shalat Subuh pada waktunya; Anda tidak tunduk pada qânun-Nya; dan Anda berarti tidak menjalankan syariat Islam (syariat Allah) secara kaffah. Sehingga, Anda meninggalkan shalat wajib (shalat Subuh) pada waktunya. Dan ini merupakan tanda yang paling nyata akan hilangnya keikhlasan.

Bukti keikhlasan adalah ketika seseorang siap mengorbankan segalanya di jalan yang diridhai Allah. Mengorbankan harta, waktu, berbagai kegiatan, dan seluruh kehidupan hanya karena Allah Swt.. Dan untuk merealisasikan ini, tentunya dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, tahapan, latihan, dan kesabaran.

Jadi, ikhlas merupakan sarana yang terpenting untuk mampu menjaga shalat Subuh. Bahkan ia merupakan sarana penting untuk menjaga ketaatan dan seluruh amal kebaikan. Karena iblis mampu menggoda seluruh hamba, kecuali mereka yang ikhlas. Allah berfirman, “(Iblis) menjawab, ‘Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Shâd: 82-83).

Kedua: Keinginan yang KuatSaya yakin, bila seseorang memiliki keinginan kuat untuk bangun tidur di awal waktu fajar, maka tidak ada yang mampu menghalanginya. Ia pasti bisa. Berkaitan dengan ini, lihatlah apa yang telah Allah firmankan tentang orang-orang munafik, “Jika mereka mau berangkat (untuk berperang), niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.” (QS. Al-Taubah: 46). Ayat ini menjelaskan bahwa, jika orang-orang munafik itu benar-benar ingin berperang, maka mereka akan mempersiapkannya sebaik mungkin. Begitu juga dengan orang yang ingin shalat Subuh, bila ia tidak mengatur waktu agar bisa bangun Subuh, maka berarti ia belum jujur pada dirinya.

Contoh kongkretnya, bila ada yang ingin bangun awal, tapi ia bergadang dan tidur larut malam; ia juga tidak mengaktifkan alaram; ia juga tidak melakukan hal-hal lainnya yang membantu agar terbangun, maka bagaimana bisa ia mengatakan, “Saya ‘ingin’, tetapi saya tidak mampu.”

Bila Allah mendapatkan keinginan yang lemah seorang Muslim untuk shalat, atau untuk melakukan amal lainnya, maka Allah benci jika ia mengerjakannya. Perhatikanlah firman Allah, “Dan jika mereka mau berangkat (untuk berperang), niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah-lah yang tidak menyukai keberangkatan mereka...”

Bahkan lebih dari itu, Allah melarang orang yang tidak sepenuh hati dalam beramal. Hal ini ditunjukkah oleh sambungan ayat tersebut, “...Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu (al-qâ‘idîn).” (QS. Al-Taubah: 46).

Ayat di atas juga mengisyaratkan kepada kita agar berhati-hati terhadap pengaruh al-qâ‘idîn. Tirmizi meriwayatkan, dari Huzaifah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kalian menjadi seperti bunglon, kemudian kalian mengatakan, ‘Jika orang-orang baik maka kami juga baik, dan jika mereka dhalim maka kami juga dhalim,’ akan tetapi pikirkanlan, jika orang-orang baik maka kalian juga berusaha untuk berbuat baik, dan jika orang-orang berbuat dhalim maka janganlah kalian berbuat dhalim.”

Maka jangan bandingkan diri Anda dengan al-qâ‘idîn yang bermalas-malasan. Tapi bandingkanlah dengan sahabat Rasululllah. Bandingkanlah diri Anda dengan Anas bin Malik r.a. yang menangis karena sekali tidak shalat Subuh pada waktunya. Bandingkanlah diri Anda dengan Khalid, Qa’qa’, Yusuf bin Tasyfin, Qutuz, dan pahlawan-pahlawan Islam lainnya. Muliakanlah qudwah Anda, tinggikanlah cita-cita Anda, kuatkanlah keinginan Anda, dan kemudian gapailah yang terbaik!

Ketiga: Menjauhi DosaShalat Subuh merupakan hadiah yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang taat dan bertaubat. Bagaimana mungkin hati yang tenggelam dalam cinta maksiat akan terbangun dan shalat Subuh berjamaah? Bagaimana mungkin hati yang telah terbalut maksiat akan tersentuh oleh hadis Rasulullah yang menerangkan tentang fadhîlah shalat Subuh berjamaah??

Diriwayatkan oleh Tirmizi—ia mengatakan hadis hasan sahih—Ahmad, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang Mukmin jika melakukan sebuah dosa maka dosa itu akan menjadi satu titik hitam di dalam hatinya. Apabila ia bertaubat dan memohon ampun maka hatinya kembali bersih. Tapi jika ia terus melakukan dosa, maka titik hitam itu akan terus bertambah. Maka itulah al-rân (penutup) yang disebutkan Allah dalam Al-Quran, ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’ (QS. Al-Muthaffifîn: 14).”

Ketahuilah, tidak menegakkan shalat Subuh pada waktunya merupakan musibah. Dan musibah adalah karena perbuatan kita. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri...” (QS. Al-Syura: 30).

Maka instrospeksilah diri akan dosa-dosa yang masih terlakukan.. dosa yang datang dari mata.. atau dari lidah.. atau dari iteraksi sehari-hari.. atau dosa kepada kedua orangtua.. atau dosa yang terpancar dari hati; seperti sombong, ria, takabur, hasad, iri, dengki, dan lainnya. Kemudian, janganlah menganggap remeh sebuah dosa. Sekecil apapun ia. Bisa jadi, dosa kecil itulah yang telah menghalangi Anda untuk mampu bangun dan shalat Subuh berjamaah di masjid.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Janganlah kalian meremehkan dosa, karena jika dosa bertumpuk pada seseorang maka ia akan menghancurkan orang tersebut.”

Berkaitan dengan ini, Hasan Al-Bashri pernah ditanyakan oleh seseorang, “Mengapa kami tidak mampu untuk bangun dan melaksanakan shalat malam?” Maka Hasan Bashri menjawab, “Kalian telah terhalangi oleh dosa yang kalian lakukan.”

Keempat: DoaRenungkanlah, siapa yang membangunkan Anda untuk mampu shalat Subuh berjamaah? Karena tidur merupakan miniatur mati. Sedangkan bangun tidur merupakan miniatur hari bangkit. Lihatlah apa yang Allah firmankan dalam Kitab-Nya, “Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) sebelum mati ketika ia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Zumar: 42).

Jadi kita berdoa kepada Allah yang memegang ruh kita, agar mengembalikannya di waktu fajar, sehingga kita mampu shalat Subuh berjamaah.

Kelima: Persahabatan AbadiMelaksanakan ketaatan sendiri terkadang sulit. Tirmizi dan Ahmad meriwayatkan dari Umar bin Khattab, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Kalian harus berjamaah dan jangan berpecah belah. Karena setan itu bersama satu orang dan bila dua orang maka setan akan lebih jauh. Dan barangsiapa yang menginginkan kelezatan surga maka ia harus berpegang teguh pada jamaah.”

Oleh karena itu, lihatlah siapa sahabat Anda. Apakah jika Anda melihat mereka akan mengingatkan Anda akan shalat Subuh berjamaah, mengingatkan pada Quran, menjaga mata, atau berbuat baik kepada kedua orang tua? Apakah mereka senantiasa memperingati Anda untuk mengingat Allah ‘Azza wa Jalla dan taat kepada-Nya? Atau mereka sama sekali tidak mengingatkan Anda akan semua hal itu.

Bila mereka sama sekali tidak memikirkan semua itu, bahkan menyibukkan dirinya dengan kelalaian, permaianan, melakukan dosa dan maksiat, maka serulah mereka kepada kebaikan dan ketaatan. Tentunya seruan ini dilakukan dengan mau‘idhah hasanah dan terus-menerus dengan penuh kesabaran. Jika mereka tidak peduli, maka kewajiban Anda hanyalah menyelamatkan diri. Kemudian, carilah lingkungan yang lebih baik.

Jadi berjuanglah untuk bersama orang yang shalih. Karena Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sifat seseorang bisa dilihat dari sifat temannya. Oleh karena itu, setiap kalian harus melihat siapa temannya.”

Bila telah bersama orang-orang yang shalih, maka akan tercipta suasana saling mengajak dalam kebaikan. Hal inilah yang diperlihatkan oleh Umar bin Khattab dan Sulaiman bin Abi Hatsmah, ketika suatu hari ia tidak shalat Subuh berjamaah.

Dan bersahabat dengan orang shalih merupakan persahabatan yang abadi. Allah berfirman, “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Zukhruf: 67).

Keenam: Tidur CepatTidur cepat bukanlah aib. Tapi tidur cepat merupakan sunnah ilahiyah. Ia juga merupakan sunnah nabawiyah. Dan penelitian ilmiah juga menuntut kita untuk tidur cepat di malam hari. Dan ini merupakan i’jâzu Al-Islam...

Allah telah mencipatakan seluruh isi semesta agar mereka tidur di malam hari dan beraktifitas di siang hari. Hal ini berlaku pada hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan. Begitu juga bagi manusia. Oleh karena itu Allah menciptakan matahari bersinar di siang hari, sehingga manusia mudah beraktifitas. Dan Allah menciptakan malam dibalut kegelapan agar manusia bisa beristirahat dengan mudah. Berkaitan dengan ini Allah Swt. berfirman,

“Dialah yang menjadikan malam bagimu agar kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang. Sungguh yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.” (QS. Yunus: 67).

Kemudian Allah menciptakan hormon di dalam tubuh manusia. Lalu Allah mengatur fungsinya sehingga manusia mudah tidur di malam hari dan beraktifitas di siang hari. Jika manusia melakukan sebaliknya, maka kerja organ tubuh tidak akan sempurna.

Hal ini dibuktikan oleh para ahli. Mereka meneliti agar dapat bekerja pada waktu yang paling produktif. Dan ini bukanlah hal aneh bagi umat Islam, Al-Quran lebih dahulu mengungkapkannya empat belas Abad yang lalu. Tapi sayang, negara-negara “maju”lah yang menerapkannya.

Saya melihat sendiri di negeri Barat, kebiasaan mereka tidur sangat cepat. Hal ini jauh dari khayalan umat Islam. Rata-rata mereka tidur antara jam 08:00 hingga jam 09:00 malam. Dan Anda akan menemukan sedikit orang setelah jam ini.

Mereka tidur bukan karena tidak ada hal yang melalaikan. Bahkan mereka memiliki seluruh melodi malam yang menghanyutkan. Mereka memiliki televisi, kasino, klab malam yang terbuka 24 jam, diskotik, bar, dan berbagai tempat serta acara yang melenakan lainnya. Mereka memiliki segalanya. Tapi karena kemaslahatan dunia, mereka tidur cepat untuk melakukan yang terbaik di hari esok. Dan dari segi dunia, kemajuan mereka telah terbukti.

Saya mengungkapkan fakta ini bukan karena silau dengan sebahagian gaya hidup mereka. Tapi saya hanya mengungkapkan tuntunan Al-Quran dan hadis, yang diterapkan oleh pihak non-Islam. Sedangkan umat Islam masih tertidur di pagi hari dan terbuai dalam alunan mimpi, kecuali orang-orang yang mendapat petunjuk Ilahi.

Apa yang dilakukan oleh Amerika, Jepang, Cina, Jerman, Inggris dan lainnya adalah bagian Islam. Bukan hal baru. Kemajuan mereka di bidang materi hanya karena mereka mengikuti hukum alam yang Allah ciptakan. Dan Allah menjanjikan, barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan meraih yang diinginkan; apakah ia Mukmin, fâsiq, maupun kafir... Allah berfirman, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasaannya, pasti kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 11).

Sekarang, mengapa sebagian umat Islam tidak tidur cepat dan beraktifitas hingga larut malam? Tidak sedikit yang bergadang hingga larut malam hanya untuk menghabiskan waktu di depan televisi. Sebagian lainnya menghabiskan waktu malam dengan bekerja. Hal ini walaupun merupakan sebuah kerja keras, tapi mereka akan kehilangan waktu yang lebih berkah di pagi hari. Karena akan sulit bagi mereka untuk mampu bangun cepat di waktu Subuh dan beraktifitas setelahnya.

Dan sebagian lainnya yang manyoritasnya pelajar, mereka bergadang hingga larut malam untuk belajar. Padahal seluruh ahli kedokteran sepakat bahwa belajar yang paling baik adalah di pagi hari. Karena pada saat itulah otak mampu berkonsentrasi secara optimal. Oleh karena itu, belajar di pagi hari seribu kali lebih berkah dari pada belajar terlampau larut malam.

Ini bukan berarti harus tidur panjang di malam hari. Tapi tidur cepat tujuannya agar bisa terbangun lebih cepat. Dengan ini akan tercipta tidur efektif walau durasinya tidak lama. Inilah tuntunan Allah dalam Al-Quran, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di waktu sahur mereka beristighfar kepada Allah.” (QS. Al-Zâriyât: 15-18).

Sumber:

laronlaron.wordpress.com

agendaramadhan.blogspot.com

facebook.com

kampoengsufi.wordpress.com

Komentar di sini saudara ku

Click to comment