Type something and hit enter

Pages

On
advertise here
195909_alsumait

Foto Abd Al-Rahman Al-Sumait, (alm) seorang dermawan Kuwait yang berkarir di Inggris. Dia adalah sosok dermawan yang mendonorkan hartanya di 29 negara Afrika. Beliau wafat pada 15 Agustus 2013 lalu, dan tercatat tak kurang 11 juta jiwa warga di Afrika masuk Islam oleh dakwahnya. (foto:detik.com)

==========================

MUNCUL pertanyaan, siapakah yang lebih utama di sisi Allah Azza wa Jalla, orang kaya yang bersyukur dengan kekayaannya atau orang miskin yang bersabar dengan kemiskinannya? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada yang lebih mengutamakan orang kaya yang bersyukur dan ada yang lebih mengutamakan orang miskin yang bersabar. Kedua pendapat ini juga dinukil dari ucapan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah.

Kedua pendapat ini masing-masing memiliki dasar argumentasi dari al-Qur`an dan hadits Nabi Muhammad  Shalallahu ‘alihi wa sallam  yang sama kuatnya, sehingga para ulama ahli tahqiq (yang terkenal dengan ketelitian dalam berpendapat) tidak menguatkan salah satu di antara dua pendapat tersebut, tapi mereka memilih pendapat yang menggabungkan keduanya, yaitu: yang lebih utama di antara keduanya adalah yang paling besar ketakwaannya kepada Allah Azza wa Jalla , berdasarkan keumuman makna firman -Nya:
قال الله تعالى: ﴿ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ ﴾ [ الحجرات : 13]

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu [al-Hujurat/ : 13]

Maka orang kaya yang lebih besar rasa syukurnya lebih utama dibanding orang miskin yang lebih sedikit kesabarannya dan sebaliknya. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan dua murid beliau, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dan Ibnu Muflih rahimahullah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimauhllah berkata, "Telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan kebanyakan (ulama) zaman sekarang tentang siapakah yang lebih utama, orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang bersabar? Sebagian dari Ulama dan ahli ibadah menguatkan pendapat pertama (orang kaya yang bersyukur lebih utama), sementara Ulama dan ahli ibadah yang lain menguatkan pendapat kedua (orang miskin yang bersabar lebih utama). Kedua pendapat ini (juga) dinukil dari Imam Ahmad rahimahullah.

Adapun para Sahabat dan Tabi'in, tidak ada satu pun nukilan dari mereka (tentang) keutamaan salah satu dari dua golongan tersebut di atas yang lain. Sejumlah Ulama lain berkata: "Masing-masing dari keduanya tidak ada yang lebih utama dibandingkan yang lain kecuali dengan ketakwaan. Maka yang paling kuat iman dan takwanya itulah yang paling utama, kalau iman dan takwa keduanya sama, maka keutamaan keduanya pun sama.

Inilah pendapat yang paling benar, karena dalil-dalil dari al-Qur`an dan hadits Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam  menunjukkan (bahwa) keutamaan (manusia di sisi Allah Azza wa Jalla dicapai) dengan keimanan dan ketakwaan. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:
قال الله تعالى: ﴿ إِن يَكُنۡ غَنِيًّا أَوۡ فَقِيرٗا فَٱللَّهُ أَوۡلَىٰ بِهِمَاۖ ١٣٥  ﴾ [ النساء :135 ]

Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu (keadaan) keduanya [an-Nisa/4:135].

Di antara para Nabi dan para Sahabat Radhiyallahu anhum yang terdahulu dan pertama (masuk Islam) ada orang-orang kaya yang keutamaannya (di sisi Allah Azza wa Jalla) lebih besar dibandingkan kebanyakan orang-orang miskin (setelah mereka), sebagaimana di antara mereka ada orang-orang miskin yang keutamaannya (di sisi Allah Azza wa Jalla) lebih besar dibandingkan kebanyakan orang-orang kaya (setelah mereka).

Orang-orang yang sempurna (keimanan dan ketakwaannya) mampu menegakkan dua sifat agung tersebut (syukur dan sabar) secara sempurna (dalam semua kondisi), seperti gambaran yang ada pada diri Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam, dan pada diri (dua Sahabat) Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan ‘Umar Radhiyallahu anhu. Akan tetapi. Terkadang seseorang lebih baik baginya (dalam keimanan) jika diberi kemiskinan, sementara orang lain lebih baik baginya jika mendapatkan kekayaan, sebagaimana kesehatan lebih baik bagi sebagian manusia dan penyakit lebih baik bagi yang lain…”.

Teladan Sempurna Dari Ulama Salaf

Generasi Salaf adalah sebaik-baik teladan dalam semua kebaikan dan keutamaan dalam agama ini, tidak terkecuali dalam memanfaatkan harta dan kekayaan untuk meraih ridha Allah Azza wa Jalla. Berikut ini contoh-contoh sosok yang terkenal dengan sifat ini adalah:

Sahabat yang mulia 'Utsman bin 'Affan bin Abil 'Ash al-Umawi Radhiyallahu anhu (wafat tahun 35 H), salah seorang dari Khulafaur Rasyidiin dan sepuluh orang Sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam. Sahabat ini sangat terkenal dengan kekayaan dan kedermawanannya. Beliaulah yang membeli sumur Rumah dari pemiliknya seorang Yahudi, untuk air minum bagi kaum Muslimin, dan Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  menjanjikan bagi beliau balasan air minum di surga kelak.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  ingin memperluas Masjid Nabawi, 'Utsman Radhiyallahu anhu menyumbangkan hartanya untuk membeli tanah perluasan masjid tersebut. Beliau juga yang membiayai persiapan jihad pasukan 'Usrah dalam perang Tabuk, dengan menyumbangkan sebanyak 950 ekor unta dan 50 ekor kuda. Setelah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  bersabda berkali-kali: "Tidak akan merugikan 'Utsman apa (pun) yang dilakukannya setelah hari ini".

Sahabat yang mulia 'Abdur Rahman bin 'Auf al-Qurasyi Radhiyallahu anhu (wafat tahun 32 H), salah seorang dari sepuluh Sahabat yang dijamin masuk surga dan juga merupakan Sahabat yang sangat terkenal dengan kekayaan dan kedermawanannya. Imam az-Zuhri berkata: "Di masa Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam, ‘Abdur Rahman bin 'Auf Radhiyallahu anhu pernah bersedekah dengan separuh dari harta beliau (yaitu sebesar) empat ribu dinar, lalu beliau bersedekah (lagi) dengan (harta sebesar) empat puluh ribu dinar.

Kemudian beliau menanggung (biaya seharga) lima ratus ekor kuda (untuk keperluan berjihad) di jalan Allah Azza wa Jalla, setelah itu beliau menanggung (biaya seharga) lima ratus ekor unta (untuk keperluan berjihad) di jalan Allah Azza wa Jalla. Sebagian besar hasil kekayaan beliau (diperolehnya) dari perdagangan.

Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Thalib al-Hasyimi al-Madani rahimahullah (wafat tahun 94 H)[34] , putra dari cucu Nabi Shalallahu ‘alihi wa sallam  yang terkenal, Husein bin 'Ali Radhiyallahu anhuma dan Imam besar dari kalangan Tabi’in (murid para Sahabat Radhiyallahu anhum), serta sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam. Beliau sangat terkenal dengan ketekunan beribadah sehingga digelari sebagai Zainul 'abidin (perhiasan bagi para ahli ibadah).

Termasuk amal ibadah agung yang sering beliau lakukan adalah banyak bersedekah untuk orang-orang miskin penduduk Madinah, sehingga sewaktu beliau wafat dan jenazah beliau dimandikan, terlihat di punggung beliau bekas-bekas berwarna hitam pada kulit beliau, karena semasa hidupnya beliau sering memikul karung berisi tepung (makanan) untuk disedekahkan kepada orang-orang miskin, di malam hari secara sembunyi-sembunyi.

Bahkan semasa hidupnya beliau menanggung biaya seratus keluarga miskin di Madinah, sampai-sampai orang menyangka beliau kikir dan suka menimbun harta, karena beliau selalu menyembunyikan sedekah beliau.

Yunus bin 'Ubaid bin Dinar al-Bashri rahimahullah (wafat tahun 139 H), seorang imam panutan yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam, serta sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram).  Beliau adalah seorang pedagang kain yang sangat jujur dan selalu menjelaskan cacat barang dagangan beliau sebelum terjadi jual-beli.

Bahkan karena kejujuran, beliau pernah mengembalikan uang seorang pembeli yang membeli kain beliau dengan harga yang lebih tinggi, karena waktu itu yang menjualnya adalah keponakan beliau. Begitu pula sebaliknya, jika beliau membeli barang dari seseorang, maka beliau akan membayarnya dengan harga yang sesuai, meskipun orang tersebut pada awalnya menawarkannya dengan harga yang lebih murah.

Diriwayatkan dalam biografi beliau, bahwa suatu saat harga kain di suatu daerah dekat Bashrah naik menjadi lebih mahal. Menjadi kebiasaan, jika daerah tersebut harga kainnya naik, maka harga kain di Bashrah pun nantinya ikut naik. Mengetahui hal itu, Yunus bin 'Ubaid rahimaullah segera membeli sejumlah besar kain kepada pedagang kain lainnya dengan harga pasaran biasa. Setelah selesai membeli barang tersebut, beliau bertanya kepada penjual tersebut, “Apakah engkau mengetahui bahwa harga kain naik didaerah anu?” Penjual tersebut menjawab, “Tidak, kalau saja aku tahu tentu aku tidak akan menjualnya kepadamu”. Maka Yunus bin 'Ubaid rahimahullah berkata: “(Kalau begitu) kembalikan uangku padamu dan aku akan kembalikan barangmu”.

'Abdur Rahman bin Aban bin 'Utsman bin 'Affan al-Umawi al-Madani, cucu Sahabat yang mulia, 'Utsman bin 'Affan Radhiyallahu anhu, Imam besar dari kalangan Atba’ut Tabi’in (murid para Tabi’in), ahli ibadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam.

Musa bin Muhammad at-Taimi rahimahullah memuji beliau dengan mengatakan: "Aku tidak pernah melihat (seorang lelaki) yang lebih banyak menghimpun agama, kerajaan (kekuasaan) dan kemuliaan (nasab) melebihi 'Abdur Raaman bin Aban. Beliau pernah membeli satu keluarga budak, kemudian memberikan pakaian untuk mereka semua, setelah itu beliau berkata kepada mereka: "Kalian (semua) aku bebaskan karena (mengharapkan) wajah Allah Azza wa Jalla. Aku menjadikan kalian sebagai penolongku (menghadapi dahsyatnya) sakaratul maut". Beliau sangat rajin beribadah, sehingga 'Ali bin 'Abdullah bin 'Abbas mengagumi dan meneladani beliau dalam kebaikan.

‘Abdullah bin Mubarak al-Marwazi rahimahullah (wafat tahun 181 H), seorang imam besar yang ternama dari kalangan Atba’ut Tabi’in yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam. Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Beliau adalah seorang yang terpercaya lagi sangat teliti (dalam meriwayatkan hadits), orang yang memiliki ilmu dan pemahaman (yang dalam), sangat dermawan lagi (sering) berjihad (di jalan Allah Shubhanahu wa ta’alla), terkumpul padanya (semua) sifat-sifat baik”.

Dalam biaografi beliau disebutkan bahwa Imam Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah pernah bertanya kepadanya tentang sebab dia memliki perniagaan besar dengan mengekspor barang-barang dagangan dari negeri Khurasan ke tanah haram (Mekah). ‘Abdullah bin Mubarak menjawab, “Sesungguhnya aku melakukan itu adalah untuk menjaga mukaku (agar tidak meminta-minta kepada orang lain), memuliakan kehormatanku, dan menggunakannya untuk membantuku dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla ”.

Ucapan beliau ini benar-benar terbukti, karena beliau sangat terkenal dengan sifat dermawan, membantu orang miskin dengan sumbangan harta yang sangat besar setiap tahun, membiayai semua perbekalan orang-orang yang menunaikan ibadah haji bersama beliau. Termasuk kedermawanan beliau yang paling utama adalah menanggung biaya hidup beberapa Imam besar ahli hadits di jamannya, seperti Imam Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah, agar mereka bisa lebih berkonsentrasi menyebarkan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  kepada umat.

Beliau berkata, "Sesungguhnya aku mengetahui kemuliaan suatu kaum (para ulama ahli hadits) yang memiliki keutamaan dan kejujuran, mereka (menyibukkan diri dengan) mempelajari hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  dengan benar dan sungguh-sungguh. Kemudian (setelah itu) kebutuhan umat Islam kepada mereka sangat mendesak (untuk mengenal petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam ), sedangkan mereka sendiri punya kebutuhan (untuk membiayai kelurga mereka).

Jika kami tidak membantu (menanggung biaya hidup) mereka, maka ilmu mereka akan sia-sia (tidak tersebar dengan baik), tapi kalau kami mencukupi (biaya hidup) mereka, maka mereka (bisa lebih berkonsentrasi) menyebarkan ilmu kepada umat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alihi wa sallam. Dan aku tidak mengetahui setelah kenabian, tingkatan/kedudukan yang lebih utama daripada menyebarkan ilmu (tentang sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam)".

Sumber: Buku  Kaya Dan Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah? Karya Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA, free download http://www.islamhouse.com

Komentar di sini saudara ku

Click to comment