Type something and hit enter

Pages

On
advertise here


Menjadi orang yang zuhud bukanlah dengan harus menjadi miskin dan menyia-nyiakan harta yang ada, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Azza wa Jalla. Akan tetapi, bersikap zuhud adalah dengan menggunakan harta dan kekayaan yang dimiliki sesuai dengan petunjuk Allah Azza wa Jalla, tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada harta dan kekayaan tersebut.

Atau dengan kata lain, bersikap zuhud adalah dengan tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta dan kekayaan yang dimiliki, dengan bersegera menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla. Inilah arti zuhud yang sesungguhnya,  sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah ketika beliau ditanya,
“Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)?” Beliau berkata, "(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata, “Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi".

Salah seorang Ulama Salaf berkata: “Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan (balasan kebaikan) di tangan Allah Azza wa Jalla daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai), maka kamu lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya diakhirat kelak) daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu”.

Sifat ini dimiliki dengan sempurna oleh para Sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  yang menjadikan mereka lebih mulia dan utama di sisi Allah Azza wa Jalla dibandingkan orang-orang yang datang setelah mereka. Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata, "Kalian lebih banyak berpuasa, (mengerjakan) shalat, dan lebih bersungguh-sungguh (dalam beribadah) dibandingkan para Sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam, tapi mereka lebih baik (lebih utama di sisi Allah Shubhanahu wa ta’alla) daripada kalian".

Ada yang bertanya, “Kenapa (bisa demikian), wahai Abu ‘Abdirrahman? Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata: "Karena mereka lebih zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat".

Renungkanlah nasehat berharga dari Rasulullah Shalallahu ‘alihi wa sallam  berikut ini:
"Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan (tidak pernah merasa cukup) (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama) nya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)".

Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan nama-nama -Nya yang maha indah dan sifat-sifat -Nya yang maha sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita sifat zuhud dalam kehidupan dunia dan cinta kepada balasan yang kekal di akhirat, serta semua sifat-sifat baik yang diridhai -Nya, sesungguhnya -Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

Sumber isi : Buku  Kaya Dan Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah? Karya Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA, free download www.islamhouse.com

Komentar di sini saudara ku

Click to comment