Type something and hit enter

Pages

On
advertise here


Perhatikan ayat suci Al-Quran yaitu Surat Al Hijr 39-42 dan Surat Shad ayat 79-83 yang membahas masalah ikhlas berikut ini:



15_39

Iblis berkata: “Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (Al Hijr: 39)

 15_40

Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis 799 diantara mereka”. (Al Hijr: 40)

 15_41

Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya) (Al Hijr: 41)

 15_42

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Al Hijr: 42)



 38_79



Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan" (Shad: 79)

 38_80

Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, (Shad: 80)

 38_81

sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)" (Shad: 81)

 38_82

Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, (Shad: 82)

 38_83

kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (Shad: 83)



Pribadi Mukhlis

Dari kutipan dari beberapa ayat bersumber dari dua surat di Quran di atas sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi bagaimana posisi ikhlas sebagai senjata paling ampuh menangkal godaan setan di dunia. Dalam ayat itu disebutkan bahwa seseorang yang memiliki sifat itu tidak akan mempan digoda oleh setan yang diikrarkan sendiri oleh mereka.

Jadi baik Allah yang menjanjikan kawalan a.k.a bekingannya terhadap mukhlisin—istilah untuk orang yang ikhlas— (Al Hijr: 41), dan setan yang sudah berikrar tidak akan menyesatkan (Al Hijr: 40) dan (Shad: 83) menjadi bukti sahih betapa pentingnya ikhlas bagi seorang mukmin. Selanjutnya apa itu ikhlas? bagaimana ciri-cirinya berikut pembahasan yang dikutip sana-sini dari artikel di internet.

Ikhlas ditinjau dari sisi bahasa berasal dari kata kholusho, yaitu kata kerja intransitif yang artinya bersih, jernih, murni, suci, atau bisa juga diartikan tidak ternoda (tidak terkena campuran). Ikhlas menurut bahasa adalah sesuatu yang murni yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Perhatikan perumpamaan dalam QS. An-Nahl: 66 berikut:
 “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberi minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (QS. An-Nahl: 66)

Pada ayat di atas Allah SWT  memberikan pelajaran bagi kita lewat binatang ternak. Betapa Dia telah memisahkan susu dari campuran kotoran dan darah, padahal ketiga macam benda tersebut sama-sama berada dalam satu wadah (perut).
 Demikianlah makna ikhlas, yakni sesuatu yang bersih dan murni dari segala campuran. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak dicampur dengan campuran dari luar.


Ikhlas merupakan “ilmu” tertinggi yang diberikan Allah kepada umat manusia, dan jika ilmu ini diterapkan dalam setiap langkah kehidupan, Allah menjanjikan limpahan berkah kebaikan bagi kita. Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas.

Dalam surah Al-An'am (6: 162-163) Allah SWT berfirman, "Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)."

Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul SAW berkata;  “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Ikhlas adalah melakukan amalan-amalan semata-mata mencari keridaan Allah SWT. Amalan-amalan tersebut tanpa dicampuri dengan keinginan dunia, keuntungan, pangkat, harta, kemasyhuran, kedudukan tinggi, meminta pujian, menuruti hawa nafsu, dan lainnya. Tidak ada satupun yang bisa menilai keiklhasan kita kecuali Allah dan kita sendiri lewat kesadaran diri sendiri.

Apakah kita hidup karena ikhlas atau karena nafsu? Temukan indikasi keikhlasan itu pada diri anda sendiri? Tanyalah hati anda. Ini karena hanya lewat kesadaranalah petunjuk hidup ikhlas dapat dibumikan menjadi keterampilan. Karena tanpa kesadaran yang cukup, segala pengetahuan yang kita miliki menjadi teori semu penghias kepala semata. Kesadaran adalah aset manusia yang sangat penting, tapi seringkali kalah promosi dengan kepintaran.

Ada dua syarat untuk amal saleh yang dapat diterima Allah SWT. Yaitu ikhlas dan mutaba'atur-rasul (mengikuti sunah Rasulullah SAW). Bila syarat yang pertama terpenuhi (ikhlas), maka tercapailah kesahihan batin. Dan, bila syarat yang kedua terpenuhi, maka tercapailah kesahihan lahir.

Berkenaan dengan syarat yang pertama, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niat dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan apa yang diniatkannya ." (HR Bukhari dan Muslim). Adapun yang berkenaan dengan syarat kedua, yaitu mengikuti sunah Rasulullah, maka beliau telah bersabda, "Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang bukan dari kami, maka dia tertolak." (HR Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim disebutkan, "Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak sesuai dengan urusan kami, maka dia tertolak."

Diantara tanda-tanda mukhlisin adalah:
Pertama, orang yang ikhlas bercirikan takut akan kemasyhuran dan sanjungan yang dapat membawa fitnah kepada diri sendiri dan agamanya. Pun jika ia seorang yang mampu, maka hendaknya ia meyakini bahwa Allah menerima sesuatu berdasarkan batin, bukannya zahir. Karena, bila seseorang merasa memiliki kemasyhuran di seluruh penjuru dunia sekalipun, sedangkan niatnya barcampur-baur, maka kemasyhurannya itu tidak akan memberi manfaat apapun kepadanya.

Penyakit hati yang sangat efektif menggerogoti kualitas ikhlas adalah riya: Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Kedua, orang yang ikhlas senantiasa menganggap dirinya hina di hadapan Allah SWT. Hatinya tidak boleh dimasuki oleh sifat takabur dan takjub terhadap diri sendiri. Bahkan, ia senantiasa merasa takut kalu-kalu dosanya tidak diampuni oleh Allah atau kebaikannya tidak diterima oleh-Nya.

Ketiga, orang yang ikhlas lebih menyukai melakukan amal kebaikan secara sembunyi-sembunyi daripada amalan yang dipenuhi dengan iklan dan irama kemasyhuran.

Keempat, orang yang ikhlas tidaklah bekerja semata-mata untuk mencari keuntungan atau mencapai kemenangan saja. Ia melakukannya semata-mata karena mencari keridaan Allah dan mematuhi perintah-Nya. Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

Kelima, orang yang ikhlas senantiasa merasa gembira dengan adanya orang-orang yang mempunyai kemampuan melebihi dirinya. Ia mampu berbagi amal dan memberi peluang kepada siapa saja yang mampu untuk menggantikan posisinya tanpa merasa berat hati atau berusaha menjegal dan menghalangnya, atau menghina dan marah kepadanya.



Sumber :

Ciri-ciri Orang Ikhlas, Alm. Ustad Jefri Al Bukhori

The Power of Ikhlas (Kesadaran = Keikhlasan = Kemudahan), Hasfinda Fakhir Mufid

 Tiga Ciri Orang Ikhlas, Mochamad Bugi

Imej Quran

Komentar di sini saudara ku

Click to comment