Type something and hit enter

Pages

On
advertise here
Antara ilmu ekonomi kapitalis dan sosialis telah muncul pertentangan yang tajam pada satu tema pokok yang mendominasi seluruh bahasan tentang berbagai sistem ekonomi. Yaitu, haruskah perekonomian bertumpu pada pasar swasta atau komando pemerintah untuk menjawab tiga masalah organisasi ekonomi[1]. Untuk itu disini akan diurai bagaimana eksistensi pemerintah telah menjadi isu paling kontroversial dalam kajian ilmu ekonomi moderen.

Perekonomian Modern

Dengan kajian yang cukup mendalam, dan penuh keyakinan sosiolog asal Jepang Francois Fukuyama meramalkan kapitalisme sebagai sebuah ideologi merupakan ideologi yang akan menyertai umat manusia hingga akhir zaman[2]. Paling tidak, analisa ini merupakan antitesis dari Karl Mark yang meramalkan kejatuhan kapitalisme dan lahirnya sosialisme, atau juga merupakan antitesis dari Joseph Scumpeter yang meramalkan pada akhirnya sosialisme merupakan ujung dari kapitalisme.

Namun untuk saat ini harus diakui, kapitalisme dengan ragam variannya adalah satu-satunya ideologi yang banyak dianut oleh negara-negara dibelahan dunia[3]. Seperti telah diuraikan di awal, pokok-pokok pikiran yang dikemukakan Adam Smith yang didaulat sebagai bapak ilmu ekonomi moderen, sebenarnya hanya melanjutkan pemikiran-pemikiran ekonomi mazhab physiokrat yang meletakkan alur kegiatan ekonomi seperti alur kehidupan atau alam. Adam Smith mengungkapkan hal ini dalam bukunya The Wealth of Nations:

......Anda menduga bahwa anda bisa membantu sistem ekonomi melalui undang-undang dan peraturan-peraturan. Kenyataannya tidak demikian. Pada sistem bebas (Laissez-Faires), kepentingan pribadi akan mendorong roda perekonomian berputar secara ajaib. Pemerintah tidak perlu melakukan perencanaan, ataupun menerbitkan maklumat untuk mengendalikan harga atau surat perintah produksi. Pasar secera otomatis akan menyelesaikan semua masalah itu.....

Semua persoalan ekonomi dapat diselesaikan oleh mekanisme pasar dengan bertumpu pada invisible hand, yang pada gilirannya akan membuat keseimbangan umum. Secara teoritis terjadinya kondisi keseimbangan umum yang mencerminkan efisiensi alokasi pada pasar persaingan sempurna adalah[4] ;

  1. Efisiensi konsumen, yaitu akan terjadi ketika setiap konsumen berada dalam keseimbangan konsumen, di mana ;


MRSA X dan Y =  MRSB X dan Y = PX / PY

di mana;

X dan Y  = barang konsumsi,  P =  harga,  A dan B = konsumen

  1. Efisiensi produsen, yaitu akan terjadi jika setiap produsen berada dalam keseimbangan produsen, di mana;

MRTSD B dan T = MRTS D B dan T = PB / PT

di mana;

MRTS = marginal rate of technical substitution , D dan C = produsen,

T dan B = faktor produksi, P = harga



  1. Selanjutnya, efisiensi alokasi juga terjadi dalam keseimbangan pasar dimana;

MRSA X dan Y =  MRSB X dan Y = PX / PY =

MRTSD B dan T = MRTS D B dan T = PB / PT

Atau dengan istilah singkat terjadi kesamaan kepuasan antara konsumen dengan produsen yang disimbolkan dengan MU =MC (marginal utility = marginal cost)

Sebab-Sebab Kegagalan Pasar

Dalam kehidupan nyata, cukup banyak kendala yang tidak memungkinkan pasar persaingan sempurna diterapkan. Baik itu karena kegagalan pasar (market failure) untuk merealiasasikan asumsi-asumsinya, maupun adanya kenyataan tidak semua barang ekonomis yang dibutuhkan kosumen dapat disediakan oleh pasar. Adanya kegagalan pasar disebabkan adanya faktor faktor dibawah ini:

Adanya barang bersama (common goods)

Adanya hak kepemilikan individual (property right) yang merupakan elemen dasar terjadinya pertukaran dalam pasar rupanya tidak bisa diterapkan untuk barang yang sifat kepemilikan bersama-sama (common goods). Dasar filosofis inilah yang mengakibatkannya gagal (market failure). Setidaknya barang bersama timbul karena karena dua faktor[5]:

  1. Indivisibility, atau suatu sebab yang  menjadikan barang tersebut tidak mungkin bisa dimiliki secara individual, sehingga harus mengakibatkannya dimiliki secara bersama.

  2. Adanya banyak jumlah pemakai (masyarakat), dan menyebabkan biaya untuk memperoleh persetujuan menjadi sangat besar atau mahal.

Tidak adanya campur tengan pemerintah dalam mengatur common goods ini akan mengakibatkan –meninjam ungkapan David Hume— suatu tragedi kebersamaan (tragedy of commons)[6]. Sebab sifat common goods yang memiliki sifat persaingan namun tidak memiliki pengecualian akan memunculkan penggunaan secara berlebihan (over used) tanpa danya kejelasan siapa yang akan menanggung biaya penggunaan (free raiders).

Adanya barang publik (public goods)

Barang publik mengandung pengertian sebagai barang yang tidak memiliki sifat pengecualian (nonexcludability), dan tidak memiliki sifat persaingan (non rivalness) dalam penggunaanya[7]. Berbeda dengan common goods yang tidak memiliki sifat pengecualian namun memiliki sifat persaingan, dan membuatnya disebut barang campuran[8], untuk barang publik tidak didapati adanya kedua sifat itu sehingga membuatnya tidak bisa disediakan dengan mekanisme pasar.

Sejatinya mekanisme penyediaan barang publik hampir sama mekanisme pasar untuk barang privat, yang dalam prespektif keilmuan merupakan kajian dari ilmu ekonomi publik. Hal ini diungkapkan Samuelson sebagai berikut[9]:

Teori pilihan masyarakat menjelaskan bagaimana pemerintah membuat keputusan mengenai pajak, pengeluaran, peraturan serta kebijakan ekonomi yang lain. Seperti pemain pasar, permainan politik juga harus bisa menyeimbangkan permintaan masyarakat akan barang-barang publik dengan kemampuan ekonomi  untuk menyediakaannya. Perbedaan utama terletak pada bukti bahwa pemain politik utama yaitu para politisi yang bertujuan memenangkan pemilihan umum, sedangkan pemain utama pasar adalah perusahaan yang bertujuan mencari laba.

Berdasarkan ungkapan tersebut ada kesan yang muncul jika pajak dapat dibayangkan sebagai harga, meskipun terdapat perbedaan jika pajak tidak bersifat sukarela, sedangkan harga tidak. Di pihak lain, dapat disamakan pula pasar dalam barang privat dengan momentum politik seperti pemilihan umum sebagai pasar dalam barang publik, dimana konsumen bisa mengajukan preferensinya terhadap penawaran politisi akan barang publik.  Penggambaran teoritis mengenai konsep ‘pasar barang pubik’ ini dapat di lihat dengan menggunakan kurva permintaan samaran (pseudo demand curve) yang pertama kali dikemukakan oleh Howard R Bowen dalam bukunya Toward Social Economy[10].

Adanya unsur ketidaksempurnaan pasar.

Salah satu asumsi wajib guna efisiensi dalam pasar persaingan sempurna adalah terjaminnya pelaksanaan definisi pasar persaingan sempurna itu sendiri[11]. Namun kenyataannya kerap kali dipasar ditemui secara sepihak harga ditentukan oleh salah satu pihak yang memiliki kuasa atas pasar (market power)[12]. Keberadaan market power ini kemudian akan menciptakan inefisiensi mengingat harga tidak lagi mencerminkan scarity maupun keseimbangan diantara price taker (penawaran versus permintaan). Bentuk-bentuk struktur pasar yang terjadi karena ketidaksempurnaan adalah[13]:

  1. Monopoli, yaitu; pasar yang didalamnya hanya terdiri satu produsen yang memproduksi barang dan jasa. Ciri khusus struktur pasar ini adalah tertutupnya pintu masuk ke pasar. Tiga hal yang menciptakan pasar monopolistik adalah[14]:

    1. Sumber daya kunci untuk memproduksi hanya dikuasai oleh produsen tunggal.

    2. Pemerintah memberikan hak eksklusif pada satu produsen.

    3. Biaya-biaya produksi akan lebih efisien jika hanya ada satu produsen.

    4. Oligopoli, yaitu; pasar yang memiliki beberapa atau sedikitnya produsen yang memproduksi output yang identik.

    5. Persaingan Monopolistik, yaitu; pasar yang memiliki banyak produsen tetapi memiliki output yang mirip.

Adanya eksternalitas

Secara umum eskternalitas didefinisikan sebagai dampak atas tindakan suatu pihak terhadap pihak lain tanpa adanya kompensasi. Sehingga ekternalitas akan terjadi karena dua hal[15] :

  1. adanya pengaruh dari suatu tindakan.

  2. tidak adanya kompensasi yang dibayarkan atau diterima.

Sejatinya, eksternalitas dianggap menyebabkan terjadinya kegagalan pasar karena keberadaannya menyebabkan harga pada keseimbangan pasar tidak mencerminkan harga yang sebenarnya karena didalamnya ada komponen lain yang tidak diperhitungkan, sehingga biaya produksi menjadi terlalu kecil jika ia berbentuk eksternalitas negatif. Selanjutnya biaya akan terlalu besar—jika ia merupakan ekternalitas positif. Ada empat karakteristik eksternalitas yang dapat dilihat dari skema dibawah ini[16]:



esternalitas


Gambar 6. Diagram eksternalitas

Keterangan :

  1. Eketrnalitas konsumen-konsumen, yaitu tindakan seorang konsumen yang menimbulkan eksternalitas terhadap konsumen yang lain.

  2. Eksternalitas konsumen-produsen, yaitu tindakan tindakan seorang konsumen yang menimbulkan eksternalitas terhadap produsen.

  3. Eksternalitas produsen- konsumen, yaitu tindakan tindakan seorang produsen yang menimbulkan eksternalitas terhadap konsumen.

  4. Eksternalitas produsen- produsen, yaitu tindakan tindakan seorang produsen yang menimbulkan eksternalitas terhadap produsen lainnya.

Ada dua bentuk ekternalitas yang lazim dikenal, yaitu; eksternalitas negatif jika dampak yang dirasakan membawa kerugian bagi orang lain dan ekternalitas positif jika dampak yang dirasakan membawa keuntungan bagi orang lain. Adanya eksternalitas, memang akan menimbulkan inefisiensi terutama untuk ekternalitas negatif, pemerintah dengan legitimasi politiknya harus ikut  campur terhadap satu pihak yang dirugikan untuk mengembalikan harga yang tidak merugikan kedua belah pihak[17].

Adanya pasar tidak lengkap (Incomplete Market)

Suatu pasar dikatakan tidak lengkap jika pihak produsen tidak mau menyediakan kuantitas produk yang ditawarkan dalam jumlah yang mencukupi, meskipun biaya pengadaannya lebih kecil dari pada apa yang mau dibayarkan oleh konsumen[18]. Dalam hal ini pemerintah harus turut campur untuk melengkapi pasar sehingga kepuasan kedua kekuatan pasar dapat terpenuhi.



Sumber : Komparasi Fiskal Antara Ekonomi Moderen Dengan Ekonomi Islam, Tinjauan Teori dan Sistem. Penulis Muhammad Ma’ruf, Skripsi, Fakultas Ekonomi Univesitas Lampung 2004.










[1] Ibid.




[2] Lihat Ahmad Fadhild Ma’ruf, The End of History, (terj) Yogyakarta, IRCiSoD, 2003, h. Xi.




[3] Lihat Mubiyarto dalam Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam; Suatu Pengantar, Yogyakarta, Ekonista, 2002, Op.Cit, h. 79




[4] Guritno Mangkusubroto, Ekonomi Publik, Edisi 3, Yogyakarta, BPFE UGM, 2001, Op. Cit, h. 28.




[5] Ibid, h.32.




[6] Ibid.




[7] N Gregory Mankin, Pengantar Ekonomi, (terj Haris Munandar) Jakarta , Erlangga, Oc. Pit, h. 264.




[8] Richard A Musgrave dan Peggy B Musgrave, Keuangan Negara dalam Teori dan Praktek, Edisi 5 (terj:Alfonsus Sirait) Jakarta, Erlangga, 1993, Op. Cit, h. 51




[9] Paul A Samuelson dan William Nordhaus, Makroekonomi, (terj: Haris Munandar, Burhan Wiraasubrata, Eko Wydiatmoko) Jakarta, Erlangga, 1996, Oc. Pit, h. 357.




[10] Richard A Musgrave dan Peggy B Musgrave, Keuangan Negara dalam Teori dan Praktek, Edisi 5 (terj:Alfonsus Sirait) Jakarta, Erlangga, 1993, Op. Cit, h. 49.




[11] Dalam sejarah pemikiran ekonomi, ditemukannya realitas ketidaksempurnaan pasar dan memasukannya dalam kerangka teoritis pertama kali dilakukan oleh para revisionis mazhab ekonomi klasik yang kemudian digolongkan sebagai mazhab klasik II atau juga disebut Neo Klasik , dengan tokoh-tokoh seperti Piero Sraffa (1898-1983), Joan V Robinson (1903-1938) dan Edward H Chamberlin (1899-1967). Pada intinya, pandangan aliran ini menganggap bahwa price taker dalam pasar persaingan sempurna untuk sebagian kasus tidak bisa dengan sendirinya membawa keseimbangan karena adanya fenomena market power atau monopoli. Sehingga memberikan prespektif baru mengenai teori pembentukan harga dan keseimbangan pasar dalam ilmu ekonomi pasar kompetitif disamping untuk kasus-kasus yang lain tetap percaya pada keabsahan keseimbangan pasar versi klasik.




[12] N Gregory Mankin, Pengantar Ekonomi, (terj: Haris Munandar) Jakarta, Erlangga, Oc. Pit, h.177.




[13] Ibid, h. 373




[14] Ibid.




[15] Guritno Mangkusubroto, Ekonomi Publik, Edisi 3, Yogyakarta, BPFE UGM, 2001, Loc. Cit, h.43




[16] Ibid, h.45




[17] Ibid, h.48




[18] Ibid, h.50


Komentar di sini saudara ku

Click to comment