Type something and hit enter

Pages

On
advertise here
    Image result for muslim wedding dress

  1. Jima’ membatalkan wudhu (kondisi suci) dan mengharuskan mandi.

  2. Mubasyarah, tidak membatalkan wudhu, kecuali jika sampai mengeluarkan mani.

  3. Mubasyarah (non-jima), ciuman dan sentuhan/rabaan yang disertai syahwat, tidak membatalkan wudhu, kecuai jika sampai keluar mani atau madzi.

  4. Wudhunya orang yang diraba/disentuh tidak batal, seperti halnya yang menyentuh/meraba, kecuali jika sampai keluar mani atau madzi.

  5. Menyentuh dan mencium wanita dari balik tabir/pakaiannya dengan syahwat, atau menyentuh rambut, gigi dan kukunya tidak membatalkan wudhu.

  6. Melakukan mubasyarah kepada amrad (anak yang rupawan) dan menciumnya; wanita menyentuh wanita yang lain dan menciumnya; menyentuh mahram, anak kecil dan orang tua dengan syahwat, tidak membatalkan wudhu, kecuali jika sampai mengeluarkan mani.

  7. Jima’ membatalkan puasa dan harus diqadha serta membayar kafarah.

  8. Jima’nya orang yang lupa dan bodoh (tidak ngerti), tidak membatalkan puasa, serta tidak dikenai kewajiban apa pun.

  9. Wanita yang dijima’, statusnya sama dengan lelaki, batal puasanya, dan ia harus mengqadha serta membayar kafarah, jika ia melakukannya dengan sadar dan taat.

  10. Orang yang jima’ di waktu malam dan belum mandi junub hingga siang hari, puasanya tetap sah dan ia tidak dikenai kewajiban(beban) apa pun. Demikian pula dengan orang yang ketika terbit fajar masih jima’, lalu ia segera mencabut-nya seketika itu juga (hukumnya sama). Akan tetapi kalau ia tidak mencabutnya (meneruskan jima’nya), maka puasanya batal dan ia harus mengqadha dan membayar kafarah.

  11. Orang yang jima’ karena mengira belum terbit fajar lalu ter-nyata keliru, maka puasanya tetap sah dan ia tidak dibebani apa pun. Akan tetapi, bagi orang yang jima’ karena mengira matahari sudah tenggelam padahal belum, maka puasanya batal dan ia hanya harus mengqadha (tanpa kafarah).

  12. Orang yang jima’ ketika puasa pada selain bulan Ramadhan, tidak dikenai kafarah, tapi puasanya batal; kecuali kalau puasanya bersifat wajib, maka ia harus mengqadhanya.

  13. Mubasyarah, ciuman dan rabaan/sentuhan dengan syahwat, hukumnya haram bagi orang yang sedang puasa, bila kemungkinan besar (yakin) akan mengakibatkan keluarnya mani. Makruh hukumnya, bila dimungkinkan keluar mani dan ia tidak mampu menguasai dirinya. Bila ia sanggup mengontrol dirinya, maka itu boleh saja dilakukan dan tidak mempengaruhi puasanya; kecuali bila sampai keluar mani, maka ia hanya harus mengqadha puasanya saja.

  14. Apabila orang yang puasa ber-mubasyarah, ciuman atau meraba lalu keluar madzi, maka puasanya tetap sah dan tidak dikenai kewajiban apapun (kafarah).

  15. Pandangan orang yang puasa kepada istrinya dengan syahwat tidak mempengaruhi puasa, bila hal itu terjadi di luar kontrolnya, seperti pandangan pertama, sekalipun sampai keluar mani. Akan tetapi, kalau pandangan itu berulang-ulang dan lama hingga menyebabkan keluarnya mani, maka puasanya batal dan ia harus menqadhanya.

  16. Imajinasi seksual, tidak membatalkan puasa, baik sampai keluar mani ataupun tidak. Sedangkan onani, bagi orang yang puasa, hukumnya haram dan membatalkan puasa jika sampai keluar mani, dan harus diqadha saja tanpa ada kafarahnya.

  17. Jima’, membatalkan i’tikaf, baik sengaja maupun lupa.

  18. Mubasyarah, ciuman dan sentuhan dengan syahwat, bagi orang yang sedang i’tikaf hukumnya haram dan membatalkan i’tikaf, bila sampai mengeluarkan mani.

  19. Jima’ yang terjadi sebelum wukuf di Arafah ataupun sesudah-nya, sebelum tahallul awal, yang dilakukan dengan sengaja, membatalkan dan mempengaruhi haji. Namun, apabila jima’ tersebut terjadi karena lupa, keliru atau karena tidak tahu, maka itu tidak mempengaruhi haji, dan hajinya tetap sah.

  20. Sedangkan jima’ yang terjadi setelah tahallul awal, tidak membatalkan haji, namun ia harus membayar fidyah.

  21. Orang yang ihram bila ia bermubasyarah, ciuman dan sentuhan dengan syahwat, maka ia berdosa, tapi tidak sampai membatalkan hajinya, tetapi ia harus membayar fidyah, baik keluar mani ataupun tidak.

  22. Memandang istri dengan syahwat dan lama, hingga keluar mani, tidak membatalkan haji, tetapi berdosa dan harus membayar fidyah; demikian pula dengan onani mengguna-kan tangan ataupun yang lain. Membayangkan tentang istri dengan lama hingga keluar mani, tidak membatalkan haji dan tidak mempengaruhinya (tidak ada akibat hukumnya).

  23. Hukum antara perempuan dengan lelaki sama, dalam semua hal, baik jima’ ataupun non jima’, ciuman dan sentuhan, baik dengan syahwat ataupun tidak.

Sumber:

Buku Fiqih Mubasyarah Pengaruh Aktivitas Seksual terhadap Ibadah, Karya Dr. Abdul Aziz bin Mabruk Al Ahmadiy. Alih Bahasa Ghazali Mukri, Chusnul Ashari. Penerbit Media Hidayah, 2005.

Catatan :

  • Mubasyarah adalah bersetubuh, atau bercinta (dalam bahasa popular)

  • Tarjih adalah sebuah disiplin ilmu usul fikih untuk melakukan penilaian terhadap suatu dalil syar’i yang secara zahir tampak bertentangan untuk menentukan mana yang lebih kuat.

Komentar di sini saudara ku

Click to comment