Type something and hit enter

Pages

On
advertise here
Sabda nabi s.a.w dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim dalam sohihnya :

قال الرسول : خيار أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم ويصلون عليكم وتصلون عليهم  وشرار أئمتكم الذين تبغضونهم ويبغضونكم وتلعنونهم ويلعنونكم …….

Maksudnya : Sebaik-baik pemimpin kamu ialah mereka yang kamu cinta dan mereka mencintaimu, mereka sentiasa menghubungi kamu dan kamu sentiasa menghubungi mereka. Dan sejahat-jahat pemimpin kamu ialah mereka yang kamu benci dan mereka pula membencimu, mereka yang kamu kutuk dan mereka pula mengutuk kamu…..

Mari jujur memaknai hadist ini.  Insya Allah, kami dan Anda akan langsung bisa menebak siapa orangnya di sekitar kita. Ya, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, a.k.a Jokowi sepertinya layak dikategorikan dalam kalimat pertama di hadist ini : Sebaik-baik pemimpin kamu ialah mereka yang kamu cinta dan mereka mencintaimu, mereka sentiasa menghubungi kamu dan kamu sentiasa menghubungi mereka…

 Untuk dicatat, kami tidak ingin memvonis bahwa Jokowi adalah pemimpin terbaik seperti yang disebut Rasulullah SAW dalam hadist ini, tetapi kami hanya mengatakan ciri-ciri pemimpin terbaik  dalam hadist ini menurut kami ada pada diri Jokowi, yaitu dicintai rakyatnya dan senantiasa saling menghubungi, a.k.a blusukan. Soal vonis Jokowi adalah pemimpin baik dalam konteks ini adalah hak kanjeng Nabi Muhammad, dan sekarang tentu rakyat Jakarta.

Kendati sedang digoyang isu SARA, yaitu kasus Lurah Susan di Lenteng Agung—terlebih sang wakil Basuki T Purnama adalah seorang Kristen—kami ingin kembali mengajak kepada teman-teman muslim untuk kembali mempelajari sejarah islam. Bacalah buku-buku sejarah islam, bahkan yang ditulis oleh kelompok paling ‘kanan’ sekalipun pasti akan dijumpai bahwa non muslim hidup damai dalam dunia Islam.

Khususnya, beberapa buku netral, yang dijadikan rujukan di S-2 IAIN seperti  History of the Arabs, karya Philip K. Hitti, dan beberapa tokoh lain menyebutkan banyak sekali pada era kejayaan muslim, tokoh-tokoh non muslim memegang jabatan penting. Kalau kami berandai-andai, mungkin tak jauh berbeda dengan Indonesia sekarang.

Dalam konteks Indonesia yang penuh korupsi sekarang, bahkan melibatkan elit ulama dan tokoh agama, serta politisi dari partai berlabel islam, kami ingin mengajak agar kita tidak terjerembab pada label. Ini sebagaimana kita dalam Islam diajarkan kebersihan hati  adalah lebih penting dari pada sekedar label-label islam baik itu mode baju, dan yel-yel dengan kalimat arab dan islam yang seolah bisa mendatangkan klaim paling islami.

Semoga kita termasuk orang-orang yang berpikir. Renungkanlah, bahkan dalam haji pun, kita hanya memakai baju ihram yang diselempangkan dengan telanjang dada untuk pria, tidak ada label disitu saya dari kelompok islam, Anda dari sekuler, dan bahkan ketika kita masuk liang lahat hanya ada kain kafan putih. Tidak ada jubah, tidak ada kopiah putih, sorban putih, baju takwa dari tanah abang, dan celana di atas mata kaki, sarung, dan pernak-pernik mode islam lainnya. Mari kita mulai belajar membedakan mana itu islam, mana itu arab. Mana itu tuntunan Nabi dan sahabat, mana ajaran kerajaan islam pasca Nabi. Ayo, belajar lagi itulah pentingnya ilmu.

akil













(akil= berakal, Mochtar = orang pilihan),

anggota-dpr-ri-asal-kalteng-hj-chairunnisa





















Chair = baik, nisa = perempuan

Mari beragama dengan jujur.

Jangan terjebak oleh label-label, khususnya dalam memilih pemimpin. Berita belakangan ini, tanpa ingin menuduh sebelum palu hakim dijatuhkan mendemonstrasikan bagaimana Allah—yang tiada satupun pergerakan di alam semesta ini luput dari Nya—memperlihatkan kebobrokan pemimpin-pemimpin muslim yang bahkan ilmu agamanya, menurut kami jauh lebih tinggi dari pemimpin yang kerap di cap sekuler.

Demi Allah, hanya orang bertaqwalah yang terbaik diantara manusia, dimana hanya Allah lah yang berhak member gelar taqwa. Kita sebagai hamba Nya, hanya bisa menebak berdasarkan ciri-cirinya. Siapa sih orang orang bertaqwa itu, silahkan lihat di Qur’an begitu banyak cirri-ciri orang model begini di situ. Idealnya, orang bertaqwa inilah pemimpin kita, bukan penipu yang membeli baju taqwa untuk kelihatan taqwa.

Kami tidak tahu, Anda membencinya atau tidak. Tetapi kami sangat membencinya, bila dikemudian hari sejumlah pejabat Negara yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi terbukti melakukan korupsi. Katakanlah Akil Muhktar di Ketua Mahkamah Konstitusi, dan Chairunnisa si Bendahara Majelis Ulama Indonesia. Keduanya, mantan dan politisi aktif partai Golkar.

Bagi  kami keduanya adalah pemimpin jahat berdasarkan hadist di atas. Dan sejahat-jahat pemimpin kamu ialah mereka yang kamu benci dan mereka pula membencimu, mereka yang kamu kutuk dan mereka pula mengutuk kamu…..

Lagi lagi, marilah kaum muslimin Indonesia untuk tidak terjebak arabisasi. Akil Mochtar adalah sebuah doa mulia, yang berarti orang pilihan yang berakal (akil= berakal, Mochtar = orang pilihan), sementara Chairunnisa adalah perempuan baik-baik (chair = baik, nisa = perempuan). Bandingkan Joko Widodo, yang berarti Laki-laki yang sederhana (Joko = ksatria, laki-laki, Widodo = kebaikan, kesantukan, kesederhanaan). Mari mulai belajat membedakan mana itu islam, dan mana itu muslim.  Demi Allah, Allah Maha Tahu semua bahasa dan apapun yang ada dibalik pencitraan.

@muhruf

Komentar di sini saudara ku

Click to comment