Type something and hit enter

Pages

On
advertise here
_wsb_478x264_Islamic+Economics+Image

Dalam prespektif apapun, korupsi, penipuan, ketidakadilan adalah prilaku pelaku ekonomi yang pada akhirnya akan merusak tatanan perekonomian suatu bangsa. Korelasi moral hazard dalam perekonomian selalu searah, artinya semakin buruk prilaku ekonomi penduduk semakin buruk pula kondisi ekonominya.  Tidak usah jauh-jauh, data survey transparency.org tahun 2013 menunjukkan 10 negara terkorup, yaitu Azerbaijan, Bangladesh, Bolivia, Kamerun, Indonesia, Irak, Kenya, Nigeria, Pakistan dan Rusia.

Sebaliknya, Negara dengan prediket paling bersih dari korupsi selalu memiliki perekonomian yang baik, dan paling makmur. Sebut saja data CPI (Corruption Perseption Index) tahun 2010 yang menempatkan Denmark, Singapura, Selandia Baru, Swedia, Finlandia, Kanada Australia, Swiss, dan Norwegia. Rata-rata Negara tersebut memiliki tingkat kemakmuran yang jauh di atas kelompok pertama. Bedanya lagi, rata-rata warga Negara terkorup dan miskin itu adalah muslim, sementar Negara bersih korupsi itu adalah non muslim.

Itu adalah fakta yang tidak dibantah oleh siapapun. Fakta ini sekaligus memberikan gambaran bahwa nilai-nilai islam yang luhur masih jauh dari prilaku masyarakat muslim. Yang muncul dan gegap gempita belakangan ini masih pada level simbol-simbol, bukan pada prilaku. Bahkan, dalam  banyak kasus nilai dan system islam banyak dipakai oleh non muslim dan akhirnya berhasil—sistem perbankan syariah adalah contoh bagaimana ekonomi islam terapan mampu menjawab tantangan perekonomian modern yang penuh gejolak. Kalaupun cost of fund (biaya) nya masih mahal ini hanya karena masalah economic of scale nya saja yang masih kecil dibandingkan konvensional.

Hasil akhir system yang korup dan perekonomian yang buruk adalah bukti bagaimana Allah masih jauh dari hati kaum muslimin. Dalam berusaha, berbisnis, kaum muslimin masih terjebak pada prinsip ekonomi lawas: dengan modal sekecil-kecilnya ingin mendapatkan untung segede-gedenya. Prinsip ini bukan fitrah manusia, karena manusia lahir dengan bersih. Prinsip ini memang mengajarkan efisiensi dalam proses produksi, namun besarnya dorongan kesenangan duniawi  a.k.a hedonisme membuat prinsip kerja itu disempitkan hanya sebagai tujuan, bukan sebagai bagian proses. Yaitu, bagaimana mendapat untung gede, kerja sedikit, dan secepatnya kaya. Tidak perduli lagi bagaimana caranya berusaha, yang penting tujuannya itu.

Hal itu terjadi karena absennya etika, moral dan agama sehingga muncullah kemudian praktik korupsi, kecurangan, ketidakadilan, dan sejenisnya. Modusnya bisa beragam, mulai dari monopoli, oligopoli, duopoly (untuk tujuan kekayaan pribadi/kelompok. Dalam islam, monopoli dibolehkan demi kemaslahatan, misalnya oleh BUMN), kartel, penimbunan barang, pemalsuan, penggelapan dll. Padahal, perekonomian berbasis rente—kami mengidentifikasikan sebagai perekonomian dengan margin keuntungan terlalu tinggi—tidak akan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kenaikan inflasi akibat motif keuntungan—yang didorong prinsip modal kecil, untung gede--bukan karena kenaikan biaya  produksi barang/jasa itu sendiri akan menyebabkan kehancuran. Ini bisa terjadi pada kasus-kasus kartel dimana sejumlah produsen atau pedagang dapat memaksakan keuntungan tinggi, tanpa takut ditinggalkan pembeli. Kasus tingginya harga daging ayam, sapi, dan sumbako di Indonesia banyak terjadi akibat motif ini, bukan semata karena masalah pasokan atau biaya pasokan atau produksi.

Islam dalam bisnis mengajarkan keuntungan sewajarnya dan adanya hak orang lain dalam setiap keuntungan. Artinya, boleh saja seorang pebisnis mematok margin keuntungan yang tinggi, namun hal itu harus dibarengi oleh shadaqah yang memadai dan proporsional. Dalam prespektif social, shadaqah adalah alat bantu untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Bila ini dilakukan oleh setiap pelaku ekonomi, atau ekonomi mikro, maka dengan sendirinya akan menyehatkan fundamental atau makro ekonomi suatu Negara.



Pada akhirnya, sebagaimana mukadimah tadi, prilaku ekonomi mikro sangat menentukan hasil akhir perekonomian suatu bangsa. Ini mirip gagasan ‘inovasi’ Joseph Schumpeter bahwa, inovasi pelaku ekonomi sangat menentukan perubahan ekonomi suatu bangsa. Sayangnya, islam yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan untuk pribadi, kelompok dan umat justru ditinggalkan. Kalaupun diterapkan, hanya setengah-setengah. Ajakan kaffah dalam beraktivitas ekonomi pada tulisan ini bukanlah menegakkan symbol, melainkan gagasan, ide dan nilai dalam islam yang sekarang banyak terkubur oleh kemegahan peradaban modern, dan symbol-simbol islam itu sendiri. (dailyiqra)

Next : Margin Keuntungan Dalam Islam ; Kasus Negeri Madyan (insya Allah)





Komentar di sini saudara ku

Click to comment