Type something and hit enter

Pages

On
advertise here
Eksistensi Etika dan Moralitas dalam Teori-Teori Ekonomi

Dari sudut teoritis, moral hazard seperti yang dituduhkan Subianto dapat menemukan pembenaran. Pertanyaannya adalah mengapa para pelaku ekonomi, baik oknum pemerintah, swasta maupun rumah tangga melakukan praktek mark-up, komisi dan kick back itu? Jawaban yang mengena mungkin diungkapkan JM Keynes, bahwa sikap serakah, riba, dan sikap hati-hati masih harus tetap menjadi dewa-dewa kita untuk jangka waktu yang cukup lama[1].

Jawaban Keynes tersebut seolah menambah beban pertanyaan yang telah di ajukan di awal. Yakni, pertama apakah ada formula teori-sistem yang sedemikan rupa, hingga dapat menanggulangi krisis ekonomi dalam bentuk materil dan immateril? Kedua, apakah memang ilmu ekonomi moderen benar-benar a-moral seperti diungkapkan Keynes?  Pada satu sisi ilmu ekonomi moderen memang telah menghasilkan gemerlapnya dunia, dengan kemajuan-kemajuan peradaban yang terukur maupun yang terasakan. Untuk itu menyangkal ilmu ekonomi moderen dengan segudang prestasi tersebut jelas merupakan tindakan bodoh. Penghargaan ini seperti Sen (2003), ekonom peraih nobel di bidang ilmu ekonomi tahun 1998[2] :


Saya tidak berpendirian bahwa pendekatan “rekayasa” pada ilmu ekonomi tidak mendatangkan hasil. Saya yakin ia telah mendatangkan banyak hasil. Ada banyak isu yang dapat dipahami dengan  lebih baik dan tercerahkan oleh ilmu ekonomi justru karena banyak digunakannya pendekatan rekayasa.....Akan tetapi saya mengatakan bahwa ilmu ekonomi dapat dibuat lebih produktif dengan memberikan perhatian yang lebih besar dan lebih jelas pada pertimbangan-pertimbangan etika yang membentuk prilaku dan penilaian manusia. Bukan tujuan saya untuk menghapuskan apa yang telah dicapai, melainkan menuntut lebih banyak lagi.

Namun disisi yang lain rupanya ilmu ekonomi moderen juga menyisakan perkerjaan berat. Dimana moral yang sejatinya menjadi sasaran akhir nilai humanitarian terlupakan. Sedikit mengulas tentang hal ini, ilmu ekonomi pembangunan yang telah banyak melakukan upaya-upaya kritik atas ilmu ekonomi moderen menyatakan bahwa sikap patuh atas prinsip universal pada teori-teori ekonomi modern telah mengarahkannya pada sikap membenci nilai-nilai normatif. Dalam hal ini Todaro (2000) mengatakan[3];

Ilmu ekonomi pebangunan merupakan kerangka lebih lanjut dari ilmu ekonomi tradisional dan ilmu politik. Selain membahas secara signifikan bentuk-bentuk efisiensi dalam kajian positif ekonomi, ia juga membahas persoalan sosial dan institusional yang berhubungan dengan ilmu ekonomi. Sebagai ilmu sosial, ilmu ekonomi berfokus pada pencarian optimasi, namun seharusnya arti kehidupan yang lebih baik itu sangat relatif, sehingga ilmu ekonomi juga harus melibatkan nilai (value) dan pengukur nilai (value judgement).

Apa yang dikemukakan Todaro nampaknya mendukung adanya integrasi antara teori-teori ekonomi yang terkesan positivistik dengan nilai-nilai humaninarian yang normatif dalam ilmu ekonomi moderen, agar tujuan ilmu ekonomi dapat lebih humanistik. Tentunya ini bukanlah harapan kosong belaka, kendati dari pengalaman yang ada, para ekonom yang mencoba menggagas ini sellau terpinggirkan dan di cap kekiri-kirian atu bahkan utopis. Tidak lain, hal ini disebabkan terbukanya kembali perdebatan filsafat ilmu dan juga kendala meruntuhkan kesepakatan ilmu ekonomi moderen yang telah kokoh dan mapan serta adanya dukung secara politis. Akan tetapi, saat ini pendulum paradigma ilmu ekonomi memang telah tergoyang, paling tidak dibuktikan oleh teori Sen--dan juga North Douglas (aliran ilmu kelembagaan)—setelah ia mampu meruntuhkan fondasi filosofis ilmu ekonomi moderen.

Dalam polemik ini ilmu ekonomi islam jelas diuntungkan. Sebab, sebagaimana ilmu ekonomi yang pro-value judgement, ekonomi islam juga menawarkan solusi atas pertanyaan adakah ilmu ekonomi yang dapat mengintegrasikan dua pendekatan positivistik-normatif? Dan dalam penulisan ini akan bahas mengenai  ilmu ekonomi islam dalam prespektif fiskal baik itu teori dan sistem. Akan tetapi, dari awal nampaknya sudah mulai terasa bahwa pekerjaan yang paling berat nantinya, adalah mengemukakan persoalan-persoalan metodologis pada gagasan ilmu ekonomi yang menggunakan dua pendekatan tersebut.



Perumusan Masalah

Etika sebagai ajaran baik-buruk, benar-salah, atau ajaran tentang moral khususnya dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi, bersumber terutama dari ajaran agama. Itulah sebabnya banyak ajaran dan paham dalam ekonomi Barat menunjuk pada kitab Injil (Bible), dan etika ekonomi Yahudi banyak menunjuk pada Taurat. Demikian pula etika ekonomi Islam termuat dalam lebih dari seperlima ayat-ayat yang dimuat dalam Al-Quran. Namun jika etika agama Kristen-Protestan telah melahirkan semangat (spirit)[4]. kapitalisme, maka etika agama Islam tidak mengarah pada Kapitalisme maupun Sosialisme.

Dalam suatu kesimpulan disalah satu makalahnya, Ekonom Indonesia Prof Mubiyarto mengatakan nampaknya ekonomi islam dapat digunakan di Indonesia. Menurutnya ajaran agama Islam dalam perilaku ekonomi manusia dan bisnis Indonesia makin mendesak penerapannya bukan saja karena mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, tetapi karena makin jelas ajaran moral ini sangat sering tidak dipatuhi. Dengan perkataan lain penyimpangan demi penyimpangan dalam Islam jelas merupakan sumber berbagai permasalahan ekonomi nasional[5].

Dalam prespektif teoritis, lemahnya moral dan etika pelaku ekonomi dalam suatu sistem fiskal moderen, baik itu pemerintah, swasta maupun rumah tangga juga menjadi tanggungjawab ilmu ekonomi moderen. Dimana sejak awal, dalam pembahasan teori ilmu ekonomi moderen nilai normatif (moral dan etika) tidak ikut dilibatkan, bahkan dibuang. Hal ini kemudian menjadi sebab, semakin jauhnya kebenaran teori dengan persoalan perekonomian, sehingga ketika para pengambil kebijakan mencoba menerapkan teori tersebut, mereka harus selalu mereduksi nilai-nilai sosial untuk dirumuskan dalam suatu kebijakan.

Pada penulisan skripsi ini, diharapkan tidak akan ada pemihakan sepihak atas salah satu objek kajian. Adanya pengungkapan persoalan-persoalan fiskal moderen pada uraian preambul lebih merupakan alur metodologi penelitian yang menuntut proses kritis atas persoalan ekonomi untuk memunculkan suatu gagasan untuk solusi baru. Terlepas uraian itu semua, penulis akan membatasi masalah-masalah penelitian pada aras-aras yang jelas dalam ekonomi fiskal, yaitu:

  1. Eksistensi sektor pemerintah dalam perekonomian moderen saat ini jelas tidak dapat diragukan oleh siapapun, baik oleh penganut aliran Klasik murni, dan apalagi penganut teori ekonomi Marxis. Keduanya –sebagaimana disimpulkan oleh Gregory Grossman—telah melebur menjadi satu, perekonomian campuran. Kini struktur perekonomian ini menjadi ciri khas dalam abad moderen saat ini, meskipun dengan arah kecendrungan yang berbeda-beda untuk tiap negara tergantung dari kecendrungan ideologis. Selanjutnya bagaimana rupa sektor pemerintah mempengaruhi aktifitas perekonomian tentu saja dapat dilihat dari bentuk kebijakan fiskal negara bersangkutan[6]. Untuk itu penulisan ini akan mengungkapkan fiskal ekonomi moderen, dalam tinjauan teori maupun sistem.

  2. Meskipun diakui keberadaannya sebagai agama, nasib islam dari waktu kewaktu –terutama pasca pencerahan Eropa-- tidak lebih dari sekedar ajaran ritual yang dimasukkan kekotak privat para pemeluknya. Hal ini kalah jauh dari pada isme sekular yang menjadi ruh abad moderen saat ini. Tidak seberuntung ilmu ekonomi moderen yang mendapat sambutan luas, nasib ilmu ekonomi islam saat ini relatif masih berbentuk cerita sejarah. Meskipun diakui ada upaya-upaya ahli ekonomi islam untuk mengusung label ilmu dalam ekonomi islam, namun kenyataannya hal ini mengalami kendala yang banyak, baik karena berpindahnya peradaban maju dari timur ke barat, maupun tata nilai mengenai parameter ilmu itu sendiri. Disinilah letak penegasan yang perlu dilakukan, bagaimana sebenarnya rupa ilmu ekonomi islam itu sendiri saat ini, mengingat sejarah mengajarkan ekonomi islam lebih berbentuk kajian aplikatif, dari pada kajian teori.

  3. Sehubungan adanya dua masalah pokok diatas, penulis menemukan adanya dua perbedaan sikap antara ekonomi moderen dan islam dalam memandang fiskal. Terutama adanya pendekatan berbeda yang digunakan kedua cabang ilmu ekonomi tersebut. Secara khusus dalam penulisan ini akan dicari bagaimanakah rupa fiskal islam itu dengan membandingkannya dengan fiskal modern. Perbedaan tersebut, selain telah terlihat pada gagasan dalam tema epistemologis dapat juga dibuat suatu hipotesis bahwa perbedaan keduannya akan ada dalam tinjuan teoritis maupun sistem. Sebab ada perbedaan yang tajam diantara keduannya pada dataran filosofis, maupun elemen-elemen sistem ekonomi yang melingkupinya.

  4. Karena adanya dua pendekatan epistemologis yang berbeda antara dua objek tersebut, yaitu positivistik versus positivistik-normatif maka pembahasan dalam penelitian ini tidak bisa tidak akan melibatkan pembahasan filosofis. Hal ini semakin dituntut ketika melihat permasalahan yang diungkapkan menjurus pada persoalan moral dan etika.

  5. Dalam peneltian ini, meskipun objek kajian yaitu fiskal dapat secara mudah untuk dilokalisir dalam pembahasan, namun harus dipahami bahwa tuntutan pembahasan masing masing objek fiksal yang dilihat dari sudut sistem dan teori memaksa penulis untuk membahas objek fiskal secara terpisah. Untuk itu pada pembahasan sistem fiskal misalnya tidak dapat dihindarkan pembahasan elemen-elemen lain diluar sistem fiskal. Hal demikian dikemukakan karena sebagai suatu pemahasan yang relatif komperhensif, kajian atas sistem apapun tidak bisa dilakukan hanya dengan membicarakan elemen didalan sistem tersebut.



Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang serta batasan masalah yang telah dikemukakan, penulis akui bahwa tema dalam penulisan ini sangat luas. Akan tetapi, merujuk pada judul serta uraian latar belakang maka penelitian ini bertujuan:

  1. Ingin  mengetahui teori dan sistem fiskal ekonomi moderen.

  2. Ingin  mengetahui teori dan sistem fiskal ekonomi islam.

  3. Ingin mengemukakan komparasi dari kedua aliran ekonomi tersebut, baik dari segi perbedaan maupun kesamaannya.

Kegunaan Penelitian

Tentu saja penulis sangat menghormati kebijakan pejabat Unila dalam menentukan kurikulum, disamping juga mengakui pengakuan keumuman ilmu yang bebas nilai. Akan tetapi, dengan tidak diajarkannya mata kuliah dari aliran ilmu ekonomi yang lain seperti ekonomi marxis, ekonomi islam, atau yang sepadan dengan teori-teori ilmu ekonomi bercorak kapitalis, maka istilah kampus sebagai kawah candradimuka intelektual yang bebas nilai dan tidak memihak perlu dipertanyakan. Selanjutnya penulisan ini sangat diharapkan untuk;

  1. Secara akademis ilmiah, diharapkan dapat menambah dan melengkapi perbendaharaan kajian tentang fiskal ekonomi moderen pada umumnya dan ekonomi islam pada khususnya.

  2. Membuka cakrawala berfikir kawan-kawan mahasiswa ekonomi untuk menggali warisan sejarah yang belum dikembangkan oleh para ahli ekonomi terdahulu, sekaligus menggugah rasa tanggungjawab status intelektual yang melekat padanya.

  3. Membuka kembali perdebatan tentang keabsahan teori-teori yang telah dipakai secara meluas sebagai pijakan para pembuat kebijakan ekonomi, serta mencari alternatif baru bagi penyelesaian masalah-masalah ekonomi yang timbul saat ini.

  4. Menjadi sumbangan berharga bagi akademisi praktisi, dan pengamat ekonomi di Indonesia.








[1] Dalam uraian di Bab. Peran Ilmu Ekonomi di buku Small is Beautiful yang penulis kutip, nampak jelas bahwa Scumacher sedang mengejek JM Keynes yang menurutnya tetap melestarikan filsafat rational economic man, hasil Adam Smith merekayasa ilmu moral menjadi ilmu ekonomi. Secara keseluruhan buku kecil itu banyak menyerang argumen-argumen filosofis ilmu ekonomi modern dengan ironi-ironi realitas. Selanjutnya, dibuku itu Scumacher mengajukan alternatif ilmu ekonomi budha. Lihat E.F. Schumacher, Kecil Itu Indah, (terj; S. Supomo), Jakarta, LP3ES, 1979, h. 40.




[2] Amartya Sen, Masih Adakah Harapan Bagi Kaum Miskin?, (terj: Rahmani Astuti), Bandung, Mizan, 2001, h. 8




[3] Michael P Todaro, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, (terj: Haris Munandar), Jakarta, Erlangga, 2000, Op.Cit, h. 24




[4] Mubyarto, Penerapan Ajaran Ekonomi Islam di Indonesia, Makalah untuk Shariah Economics Days, Forum Studi Islam Senat Mahasiswa FE-UI, Jakarta, 19 Februari 2002. Sumber www.tazkiaonline.com




[5] Ibid.




[6] Paling tidak inilah  pendapat JM Keynes dan para pendukungnya yang menyatakan dari sekian kebijakan ekonomi yang ada, kebijakan fiskal merupakan kebijakan paling efektif . terlepas dari penolakan para monetaris atau aliran reganomic, maupun pendukung klasik, penulis mencoba menggunakan kesimpulan keynes ini sebagai objek penelitian. Alasan- alasan tentang pentingnya pemerintah dengan jelas telah dikemukakan diawal preambul.


Komentar di sini saudara ku

Click to comment