Type something and hit enter

Pages

On
advertise here
Assalamualaikum Wr Wb.
Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan taufiqnya kepada kita. Insya Allah, dengan izin Nya, saya ingin berbagi artikel yang bersumber dari skripsi S-1 saya, di Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, Fakultas EKonomi, Unversitas Lampung. Masih banyak kekurangan dalam skipsi saya ini yang sebenarnya diawali motif untuk menerbitkan buku, dan alhamdulillah belum kesampaian. 
Saya berharap, tulisan ini berguna bagi siapapun yang berminat dalam kajian fiskal islam yang menurut saya masih sangat terbatas di Indonesia, bahkan dunia. Masih sedikit sarjana muslim yang menaruh perhatian pada bidang ini, karena hemat saya tren  ekonomi islam sejauh ini baru pada bidang moneter atau perbankan syariah. Kajian fiskal nyaris minim akibat tidak adanya kesepahaman mengenai konsep politik dalam islam.
Saya sendiri mengalami hal itu ketika menyusun skripsi setebal 500 halaman ini. Untuk mencari referensi buku saja susah, apalagi mencari dosen pembimbing yang kompeten. Apapaun itu, ini hanyalah ikhtiar saya yang sangat jauh dari sempurna, semoga Allah membimbing saya dan Anda pada jalan Nya yang benar.
Insya Allah, bila Dia menghendaki, saya akan mengupload skripsi ini bagian perbagian. Saya sangat terbuka dengan kritik saran dan tanggapan. Saya akan mulai dengan kata pengantar.
Wassalamualikum Wr Wb
MM
====================================================================================
zakat

KOMPARASI FISKAL ANTARA EKONOMI MODEREN DENGAN EKONOMI ISLAM TINJAUAN TEORI DAN SISTEM
KATA PENGANTAR
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”  (Al-Quran Karim, Surah At-Taubah ;122)
Apa yang hendak dilakukan dalam revolusi islam, hendaklah tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan pada revolusi marxis. (renungan sejarah bagi para pejuang)
Puji syukur Alhamdulillah penulis agungkan kepada Allah SWT, Tuhan segala yang ada di bumi dan di langit. Dengan haqqul yakin penulis nyatakan, penulisan skripsi tidak pernah akan selesai tanpa, izin-Nya. Kemudian, sholawat serta salam juga penulis ucapkan pada manusia paling agung yang diciptakan Nya, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abd Al-Muthalib bin Hasyim bin Abd Manaf bin Qursay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Al-Nadr bin Kinanah bin Kuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudar bin Nizar Ma’ad bin Adnan.
Ada banyak motif yang penulis gunakan sebagai alasan penulisan skripsi ini. Selain—tentunya—sebagai syarat meraih gelar sarjana strata-1, penulis juga melihat peluang ekonomi islam –atau banyak juga disebut ekonomi syariah—berkembang di Indonesia[1]. Selain itu, laiknya seorang muslim penulisan ini adalah wujud kongkreit dari pemahaman akan Ucapan Agung-Nya pada Surrah At-Taubah ayat 122. Inilah senjata yang penulis dapati dari-Nya, yakni akal dan hati.

Wacana Moral Hazard

Beberapa tahun yang lalu, ketika krisis ekonomi baru melanda perekonomian Indonesia, sempat muncul wacana moral hazard dalam pelbagai diskusi-diskusi ekonomi. Baik formal, seperti lingkungan akademis, seminar-seminar pengamat ekonomi maupun di lingkungan informal, seperti diskusi-diskusi mahasiswa, dan masyarakat awam. Salah satu kesimpulan yang bisa ditangkap dari wacana tersebut—terlepas dari faktor-faktor ekonomi yang menyebabkan krisis—moral hazard disebut sebagai salah satu faktor utama mudahnya krisis ekonomi terjadi. Namun, wacana moral hazard tersebut lambat laun hilang begitu saja tanpa ada usaha untuk mencari relevansi secara teoritis, apalagi menyusun langkah-langkah kongkrit untuk dijadikan solusi krisis ekonomi di Indonesia.
Dari pelbagai analisis ekonomi, dapat disimpulkan bahwa masalah moral memang sangat sulit dicari dipelbagai teori-teori dalam ilmu ekonomi moderen. Sejatinya, ia dapat ditelusuri pada tema-tema dasar ilmu ekonomi moderen, seperti pembahasan filosofis tentang makna rational economic man, selft interest, atau paham-paham utilitarianisme yang merupakan landasan filosofis ilmu ekonomi moderen. Karena, cukup mencengangkan ketika JM keynes yang didaulat sebagai Bapak Makroekonomi Moderen mengatakan[2];
“...serakah, riba, dan sikap hati-hati masih harus menjadi dewa-dewa kita untuk  jangka waktu yang lama. Sebab, kita jangan sampai memandang masalah ekonomi terlalu penting, atau mngorbankan untuk hal-hal lain yang mempunyai maknayang lebih besar da lebih dalam.”
Terlepas dari kebenaran tuduhan atas filosofi ilmu ekonomi moderen yang memang memicu adanya tindakan moral hazard ini. Sudut moral dapat dilihat dari kacamata motivasi ekonomi yang memicu setiap pelaku pasar beraktifitas. Salah satu yang lekat dengan konsep ekonomi moderen untuk hal ini adalah implikasinya terhadap nilai efisiensi. Selanjutnya, dalam pelbagai analisa ekonomi dapat diambil suatu kesimpulan bahwa, pada dasarnya masalah inefisiensi lebih merupakan masalah institusi pasar pemerintah daripada swasta. Beberapa contohnya, praktek-ptaktek korupsi, kolusi dan nepotisme di pelbagai institusi pemerintah yang tidak terbatas pada bidang ekonomi saja, seperti BUMN, Dirjen Pajak, dan proyek-proyek pengadaan barang publik pada departemen-departemen.
Penulisan ini merupakan suatu upaya untuk mencari suatu perbandingan antara fiskal ekonomi moderen dan islam dari sudut teori dan sistem. Pemilihan prespektif, teori dan sistem ini merupakan salah satu upaya untuk mengaitkan masalah moral, dimana fiskal dalam penelitian ini tidak dianggap sebagai suatu intrumen an-sich, akan tetapi lebih luas dari itu adalah suatu bagian dari subsistem, sistem ekonomi. Oleh karena itu, penulis sadari bahwa pola penelitian ini relatif berbeda dari kebiasaan penulisan skripsi pada lembaga tempat penulis belajar.
Pemilihan fiskal islam, disebabkan karena adanya tawaran ilmu ekonomi islam yang mengintegrasikan moral islam tahapan teoritis, apalagi pada proses kebijakan. Bahkan, dari sudut sistem ekonomi islam akan ditemukan banyak sekali muatan-muatan moral-etik yang menurut penulisa dapat menjelaskan mengapa moral hazard sangat sukar diselidiki dalam pembahasan-pembahasan ilmu ekonomi moderen. Akan tetapi, pilihan terhadap fiskal islam memang bukanlah pilihan yang mudah, sebab infrastruktur keilmiahan ekonom islam pada saat ini masih dalam tahap perdebatan, dan masih memungkinkan terjadinya revisi-revisi ulang pada—misalnya—tema epistemologis.

Fiskal Islam

Dengan ikhtiar penulis yang cukup terbatas, baik dari kapabilitas pemikiran maupun kemampuan finansial dan waktu, amat susah menemukan referensi fiskal dibandingkan referensi moneter islam. Hal ini tentu tidak merupakan sikap untuk melihat kemajuan moneter islam merupakan tindakan kontraproduktif, akan tetapi lebih didasari pada sikap ketidakseimbangan ini adalah kondisi yang kontraproduktif bagi ilmu ekonomi islam. Kemajuan moneter islam memang tidak terlepas dari jelasnya objek yang membatasi antara moneter islam dengan moneter konvensional, yaitu adanya riba atau bunga. Disisi lain antara fiskal islam dan moderen ada semacam kekaburan dimana para pemikir islam sendiri telah terbelah menjadi tiga kutub dalam mensikapinya. Pertama, kelompok yang memandang zakat merupakan inti dari fiskal islam, kedua, kelompok yang memandang ada pajak yang merupakan komponen utama dalam fiskal islam dan zakat bukan merupakan bagian fiskal islam, namun hanya merupakan dana sosial dari, dari-dan untuk masyarakat. Ketiga, kelompok moderat yang memandang ada pajak dan zakat dalam fiskal islam.
Terlepas dari itu semua, bagi penulis kurang populernya fiskal islam dalam konteks ilmu ekonomi islam bagi para peminat ilmu ekonomi islam terhalang oleh beberapa faktor;
  1. Meskipun kerumitan epistemologis moneter islam diakui, namun pada saat ia diimplementasikan tidak ada kendala lain diluar persoalan ekonomi yang akan menghadangnya. Ini terbukti, dimana moneter islam atau pembiayaan langsung dapat tumbuh subur dalam sistem ekonomi paling sekular sekalipun. Hal ini dikarenakan pembiayaan langsung rupanya menguntungkan secara material tanpa harus mengikuti faktor moral islam.
  2. Zakat yang dipandang sebagai inti fiskal islam rupanya terlalu rigid untuk direformulasikan dalam konteks kekinian. Ini disebabkan oleh aturan zakat baik dari pengumpulan maupu pengeluarannya telah termaktub dalam nash naqli yang jelas dan amat susah untuk ditafsirkan secara kontekstual. Bahkan, upaya rasionalisasi zakat seperti pernah di usulkan Mannan (tahun) akan berakibat pada tuduhan penyimpangan agama
  3. Selain itu, pajak islam yang digagas sebagai isu zakat selalu terbentur pada upaya adobsi fiskal moderen, sebab antara keduannya memang memiliki batasan yang tipis dan kabur.
  4. Berbeda dengan moneter islam, penerapan fiskal islam akan memerlukan syarat utama, yaitu legitimasi politik. Faktor politik ini menjadi dominan karena dalam prakteknya kebijakan fiskal sangat erat kaitannya dengan struktur pemerintahan. Dan dalam merumuskan fiskal islam sendiri kita akan kerap dituntut untuk memasukkan vareabel non ekonomi sebagai unsur ceteris paribus. Misalnya penerapan syariat islam sebagai landasan negara dan acuan pemerintah dalam memerintah. Hal ini boleh jadi menjadi kendala terberat, mengingat upaya pengkritisan atau bahkan penggulingan ideologi suatu negara akan berhadapan dengan pasal-pasal subversif.
Akhirya, upaya reformulasi fiskal islam dengan metode komparasi ini bukan ditujukan untuk memojokan fiskal moderen. Sebab menurut hemat penulis, tindakan ‘revolusi’ fiskal moderen sampai keakar-akarnya adalah tindakan bodoh, dan bahkan melupakan prestasi ilmu ekonomi moderen yang telah menghasilkan kemajuan material yang luar biasa. Upaya yang dilakukan adalah upaya kritis atas ketidakmampuan ilmu ekonomi moderen dalam menanggapi persoalan moral dan etika.

Tentang Skripsi Ini

Ketika penulis mencoba gagasan ini, ada dua pihak yang memberikan opininya. Pertama, mereka yang pesimis atas kajian ini yang paling tidak dilandasai oleh beberapa argumen, yaitu; (i) Kajian ini sangat tidak fair mengingat salah satu objek kajian (yaitu ekonomi islam) masih merupakan studi ilmiah ekonomi yang diperdebatkan. (ii) Kalaupun objek tersebut ada model metodologi penelitian yang digunakan sangat disangsikan sebagai suatu model yang sah dalam metodologi penelitian ekonomi. (ii) Terlalu luasnya, objek kajian yang diambil yaitu meliputi kajian fiskal dari sudut sistem dan teori sehingga untuk ukuran penyelidikan ilmiah pada level Strata-1 hal ini akan mengakibatkan penelitian yang tidak fokus.
Dari tiga argumen diatas, nampaknya pledoi yang dapat diberikan penulis disini adalah argumen kedua dan ketiga, sedangkan argumen pertama penulis kemukakan dalam skripsi ini. Masalah metodologi memang merupakan tema yang krusial dalam suatu penyelidikan ilmiah, dan dalam penyelidikan ini penulis memakai corak penelitian kepustakaan (library research) dengan memakai metode penelitian deskriptif. Pilihan atas metodologi ini dipengaruhi oleh beberapa alasan; (a) tidak adanya referensi aktual atas suatu objek fiskal islam dalam kontek kontemporer yang representatif (b) model penelitian jenis ini sangat banyak, dan malah lazim digunakan dalam penelitian-penelitian ilmu sosial (c) keyakinan penulis bahwa ilmu ekonomi adalah murni bagian dari ilmu-ilmu sosial, dan penggunaan alat-alat matematis sebagai suatu alat metodologis—mendukung istilah Winardi[3]—hanyalah berguna untuk memudahkan penelitian, namun tidak memberikan hasil yang lebih objektif. (d) Kapasitas dan kapabilitas penulis yang lebih cendrung menguasai tema-tema filsafat. Selanjutnya, untuk argumen ketiga karena luasnya objek kajian merupakan pilihan penulis maka penilaian atas hasil penyelidikan ilmiah ini hanya dapat diserahkan pada para tim penilai dan pembaca.
Kelompok kedua, mereka yang optimis, yang juga diilhami oleh beberapa alasan. Yaitu (i) penulisan ini dapat dianggap sebagau suatu uji coba terhadap kelaziman metodologis maupun tema dalam penulisan skripsi di Jurusan Ekonomi Pembangunan, (ii) penulisan ini diharapkan mampu dijadikan dasar bagi penelitian serupa, dan makin memperkaya tema keilmuan, khususnya di lembaga ini. (iii) penulisan tema ini dapat menambah perbendaharaan literatur, khususnya bagi fiskal islam. Selain berterimakasih, penulis akui alasan-alasan tersebut terlalu optimis, jika melihat kemampuan penulis yang ala kadarnya. Bahkan penelitian ini hanya memenuhi 50 persen dari hasil yang diperkirakan. Kegagalan-kegagalan itu terjadi sangat serius pada pembahasan masalah teori-teori fiskal, baik moderen dan islam. Selanjutnya dalam melakukan komparasi teoritis penulis juga tidak cukup mampu memberikan hasil yang memuaskan. Lepas dari persoalan tersebut sifat malas, yang merajalela dalam pengerjaan skripsi ini merupakan yang utama. Sifat ini sebagaimana umumnya menjangkiti ‘angkatan tua’ juga mengganggu semangat penulis untuk menciptakan karya ini. Untuk itu dengan kerendahan hati, penulis akui skripsi ini lebih mirip sebuah rangkuman dari pada suatu upaya alternatif solusi. Selanjutnya, banyaknya saran serta nasihat dan kritikan yang penulis dapati terbukti efektif untuk meredam segala bentuk halangan psikologis yang penulis alami. Untuk itu, penulis ucapkan banyak terimakasih.
6 Juni 2004, Gunung Sari, Bandar Lampung
Penulis,

Muhammad Ma’ruf


[1] Menurut data Biro Perbankan Syariah BI, dalam jangka waktu sepuluh tahun kedepan, dibutuhkan tidak kurang dari 10 ribu SDM yang memiliki kualifikasi dan keahlian di bidang ekonomi syariah. Tentu ini merupakan peluang yang sangat prospektif sekaligus sebagai tantangan bagi lembaga-lembaga pendidikan yang ada. Sudah saatnya kajian ekonomi Islam mendapat ruang dan tempat yang lebih luas lagi di perguruan tinggi.
Syarangnya khusus di Unila, matakuliah ekonomi islam, masih dianggap sebatas suplemen. Padahal dalam konteks internasional, maupun nasional (khususnya di Jawa) telah dilakukan banyak upaya-upaya serius untuk menggali warisan islam klasik tentang ekonomi islam. Yang mengejutkan, hal itu tidak hanya dilakukan oleh para ekonom muslim, bahkan oleh ekonom non-muslim. Dan bahkan, si Singapura praktik lembaga keuangan berbasis syariah marak digunakan.
[2] lihat E.F. Schumacher, Kecil Itu Indah, (terj; S. Supomo), Jakarta, LP3ES, 1979, Loc. Cit, h. 40
[3] Winardi, Ilmu Ekonomi; dan Aspek-Aspek Metodologinya, Rieka Cipta, Jakarta, 1990,

Komentar di sini saudara ku

Click to comment