Type something and hit enter

Pages

On
advertise here
 …..mencampuri istri selain pada vagina tidak dapat memba-talkan wudhu, adalah pendapat yang rajih (kuat), kecuali apabila ia mengeluarkan sesuatu (mani atau madzi). Mengingat kuatnya dalil-dalil yang dikemukakan, di samping karena memang tidak adanya dalil yang menunjukkan atas batalnya wudhu.

Para pakar fiqih telah bersepakat bahwa bersetubuh pada vagina dapat membatalkan atau merusak bersuci. Bahkan, tidak hanya merusak bersuci saja, tetapi lelaki dan perempuan wajib mandi besar manakala pada waktu bersetubuh itu disertai keluarnya mani. Ibnu Mundzir berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa bersetubuh itu menyebabkan seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, berhadats besar. Karena berhadats besar otomatis membatalkan wudhu.”

Ibnu Qudamah berkomentar, “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam masalah batalnya wudhu karena disebabkan hadats besar.”

Dalilnya:

Firman Allah, “Dan jika kamu dalam keadaan junub, maka bersucilah.”(QS. al Maidah: 6). Sabda Nabi, dalam hadits Abu Sa’id al Khudri, “(Seseorang itu) wajib mandi karena keluar mani.”

Demikian pula empat imam madzhab telah bersepakat bahwa seseorang berkewajiban mandi besar semata-mata karena kelup penisnya telah masuk ke dalam vagina perempuan sekalipun tidak keluar mani.

Dalilnya:

Hadits Aisyahd, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Apa-bila ia (lelaki) duduk di antara empat anggota badan perempuan kemudian penisnya disentuhkan pada vagina perempuan, maka wajiblah mandi.

Hadits Abu Hurairah , ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Apabila ia duduk di antara empat anggota tubuh perempuan kemudian ia menyetubuhinya, maka ia berkewajiban mandi.” Dan Muslim menambahkan, “Sekalipun ia tidak keluar mani.”

Syaukani berkomentar, “Hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban mandi itu tidak terpaku atas keluarnya mani, bahkan hanya semata-mata penis itu telah masuk ke dalam vagina perempuan saja, seseorang telah wajib mandi besar.”

Syaikh Ibnu Utsaimin hafizhahullah berkomentar, “Hadits ini secara tegas menjelaskan kewajiban seseorang mandi besar ketika telah bersetubuh walaupun tidak keluar mani. Hukum wajibnya mandi besar bagi seseorang yang telah bersetubuh ini, banyak tidak diketahui oleh masyarakat. Banyak masyarakat yang tidak mengerti hukum masalah ini, sehingga kita dapati sepasang suami-istri setelah melakukan hubungan badan, namun karena tidak keluar mani, mereka tidak mandi besar. Apalagi pasangan suami-istri itu masih usia muda sehingga tidak sempat belajar masalah ini. Mereka yang setelah berhubungan badan tidak mandi besar seperti itu, karena menurut persepsi mereka, seseorang yang baru saja bersetubuh wajib mandi besar manakala keluar manidan tidak mandi besar manakala tidak keluar mani. Persepsi yang demikian ini jelas keliru.”

Adapun mengenai hukum mubasyarah fahisyah (yang keji), yaitu seseorang menyetubuhi perempuan tetapi tidak pada vagina, maka menurut jumhur ahli fiqih, mubasyarah yang seperti itu dapat membatalkan bersuci (wudhu) walaupun tidak disertai keluarnya mani.  Jumhur ahli fiqih berpendapat demikian itu, karena beralasan dengan hadits dan akal.

Adapun dalil dari hadits, seperti yang diriwayatkan bahwa pada suatu ketika ada seseorang bertanya kepada Rasulullah, lalu ia berkata, “Sesungguhnya saya telah berbuat apa saja terhadap istriku selain bersetubuh.” Lalu Nabi   bersabda, “Silahkan kamu berwudhu dan shalat dua rakaat.”

Hadits tersebut menunjukkan bahwa mubasyarah fahisyah, yakni bersetubuh selain pada vagina dapat membatalkan wudhu. Hal ini didasarkan atas perintah Nabi kepada seseorang yang telah mencampuri istrinya selain pada vagina agar berwudhu dan mengerjakan shalat.

Adapun dalil akal (logika), mereka mengatakan bahwa mubasyarah (mencampuri istri selain pada vagina) seperti ini tidak lepas dari keluarnya madzi yang hal itu bisa membatalkan wudhu. Selain itu, bercampur semacam itu diduga kuat ada sesuatu yang keluar dari (kemaluannya) yang menyebabkan hadats. Padahal, menempatkan sebab kepada kedudukan musabab (yang dijadikan keluarnya sebab) merupakan cara yang diakui dalam syariat Islam.

Pendapat ini bisa dibantah; karena pada dasarnya tidak ada sesuatu yang keluar dari kemaluannya. Karenanya, kita tidak boleh menghilangkan sesuatu yang diyakini(yaitu pada prinsip-nya tidak ada sesuatu yang keluar) hanya karena adanya keraguan.

Demikian pula ketiga imam madzhab selain Abu Hanifah berargumentasi dengan qiyas (analogi) bahwa menyentuh perempuan yang disertai dengan syahwat adalah membatalkan wudhu. Bahkan, menurut Syafi’i menyentuh perempuan bisa membatalkan wudhunya sekalipun tidak disertai syahwat. Kalaulah menyentuh perempuan saja dapat membatalkan wudhunya, apalagi mubasyarah fahisyah, yaitu bercampur dengan istri selain pada vagina, maka lebih batal lagi wudhunya. Dan argumentasi-argumentasi mereka itu akan dipaparkan pada pembahasan bab kedua.

Sementara, sebagian ulama seperti Muhammad bin Hasan, Ibnu Taimiyah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Thawus, Hasan dan Masruq berpendapat bahwa mubasyarah fahisyah, yaitu mencampuri istri selain pada vagina, tidak membatalkan wudhu kecuali disertai keluarnya sesuatu (mani atau madzi). Karena pada dasarnya bercampur seperti itu tidak membatalkan wudhu sebelum ada dalil shahih dan tegas yang menunjukkan atas batalnya wudhu tersebut.

Selain itu, mereka beralasan bahwa sebab itu hanya ditempatkan pada posisi akibat (musabab) di suatu tempat yang tidak memberikan peluang untuk mengadakan penyelidikan terhadap akibat tanpa disertai timbulnya suatu kesulitan. Sementara, melakukan penyelidikan terhadap musabab di sini merupakan sesuatu yang mungkin terjadi tanpa harus menimbulkan suatu kesulitan. Mengapa hal itu merupakan sesuatu yang mungkin terjadi? Karena kondisi itu merupakan kondisi kesadaran yang memberikan peluang untuk mengadakan penyelidikan terhadap suatu hakikat. Dengan demikian, tidak diperlukan memposisikan sebab pada posisi musabab (akibat).

Jadi, mencampuri istri selain pada vagina tidak dapat memba-talkan wudhu, adalah pendapat yang rajih (kuat), kecuali apabila ia mengeluarkan sesuatu (mani atau madzi). Mengingat kuatnya dalil-dalil yang dikemukakan, di samping karena memang tidak adanya dalil yang menunjukkan atas batalnya wudhu.

------------------------------

Catatan : Mubasyarah adalah bersetubuh, atau bercinta (dalam bahasa popular)

Sumber:

Buku Fiqih Mubasyarah Pengaruh Aktivitas Seksual terhadap Ibadah, Karya Dr. Abdul Aziz bin Mabruk Al Ahmadiy. Alih Bahasa Ghazali Mukri, Chusnul Ashari. Penerbit Media Hidayah, 2005

Komentar di sini saudara ku

Click to comment