Type something and hit enter

Pages

On
advertise here
Pendapat yang rajih ialah pendapat yang menyatakan bahwa seorang laki-laki yang mengumpuli istrinya selain pada vagina, menciumnya dan menyentuhnya secara mutlak, baik disertai syahwat maupun tidak disertai syahwat tidak membatal-kan wudhunya, kecuali mengeluarkan madzi, maka batallah wudhunya.

-------------

Ibnu Mundzir berkomentar, “Semua ulama yang tidak diragukan lagi kepakarannya telah bersepakat bahwa apabila seorang lelaki mencium ibunya, puterinya atau saudarinya karena ingin menghormati mereka dan karena hendak berbakti kepada mereka, ketika mereka baru saja datang dari bepergian atau sebagian badannya menyentuh kepada sebagian badan mereka di saat memberikan sesuatu kepada mereka, maka wudhunya tidak batal.”

Adapun mubasyarah (mengumpuli) perempuan (istri) dengan mencium dan menyentuh badannya, maka para ulama berbeda pendapat mengenai batalnya wudhu. Dalam hal ini paling tidak ada tiga pendapat yang cukup popular , berikut ini:

Pertama, mubasyarah (mengumpuli) perempuan dengan mencium dan menyentuh badan sama sekali tidak membatalkan wudhu, baik disertai dengan syahwat maupun tidak disertai syahwat. Pendapat ini adalah pendapat golongan Hanafi dan golongan Hambali dalam suatu riwayat. Pendapat ini dipilih oleh sebagian di antara mereka, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Pendapat kedua, menyentuh perempuan itu baru membatalkan wudhu apabila disertai syahwat dan tidak membatalkan wudhu apabila tidak disertai syahwat. Pendapat ini adalah pendapat golongan Maliki dan golongan Hambali dalam suatu pendapat. Dan pendapat ini juga diriwayatkan dari Hakam, Hamad, ‘Alqamah, an Nakha’i, ats Tsauri, Ishaq, asy Sya’bi, al Laits bin Sa’ad dan Rabi’ah.

Pendapat ketiga, menyentuh perempuan membatalkan wudhu secara mutlak yang semata-mata karena adanya persen-tuhan antara kulit lelaki dan kulit perempuan walaupun tanpa disertai syahwat atau kesengajaan. Pendapat ini adalah pendapat golongan Syafi’I, dan golongan Hambali dalam suatu riwayat. Dan pendapat ini diriwayatkan dari Umar dan puteranya, Ibnu Mas’ud, Makhul, az Zuhri, asy Sya’bi, Yahya bin Sa’id al Anshari, Sa’id bin Abdul Aziz dan suatu riwayat dari Auza’i.28

Sebab perbedaan pendapat. Ibnu Rusy berkata, sebab mereka berbeda pendapat dalam masalah ini adalah karena isim (kata benda) lams itu mempunyai pengertian lebih dari satu (musytarak) dalam bahasa Arab, sehingga orang-orang Arab terkadang mengartikan kata lams itu menyentuh dengan tangan, terkadang mereka mengartikan lams itu sebagai kiasan istilah jima’ (bersetubuh).

Dengan demikian, sebagian ulama ber-pendapat bahwa lams yang mewajibkan bersuci sebagaimana termaktub dalam ayat wudhu tersebut adalah jima’. Sementara, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa yang mewajibkan bersuci itu adalah menyentuh dengan tangan. Dan di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ayat itu bersifat umum tetapi yang dimaksudkan adalah khusus, sehingga disyaratkan harus disertai dengan kelezatan.

Dan di antara mereka ada yang berpendapat ayat itu bersifat umum tetapi dimaksudkan umum pula, sehingga tidak disyaratkan harus disertai kelezatan. Barangsiapa yang mensyaratkan harus disertai dengan kelezatan, berarti ia telah menerapkan persyaratan itu kepada peristiwa yang bertentangan dengan keumuman ayat itu, yakni Nabi pernah menyentuh badan Aisyah dengan tangan beliau di saat sujud, dan bisa jadi Aisyah juga menyentuh badan beliau.



TARJIH:

Setelah kami paparkan sekian pendapat dan dalil beserta bantahan-bantahannya, maka jelaslah bagi kami pendapat yang rajih (kuat) dalam persoalan ini – sedang ilmu sepenuhnya di sisi Allah. Pendapat yang rajih ialah pendapat yang menyatakan bahwa seorang laki-laki yang mengumpuli istrinya selain pada vagina, menciumnya dan menyentuhnya secara mutlak, baik disertai syahwat maupun tidak disertai syahwat tidak membatal-kan wudhunya, kecuali mengeluarkan madzi, maka batallah wudhunya. Hal itu didasarkan atas alasan-alasan sebagai berikut:

Ayat yang dijadikan dasar dalam persoalan ini oleh orang-orang yang berpendapat bahwa sentuhan dengan lawan jenis itu dapat membatalkan wudhu, telah dijelaskan penafsiran-nya oleh pakar tafsir di kalangan sahabat, yaitu Ibnu Abbas.

Ia menafsirkan kata lams dengan arti jima’. Penafsiran inilah yang benar karena penafsiran itu telah dipilih oleh kebanyak-an ulama muhaqqiqin seperti Ibnu Jarir ath Thabari, Syaukani dan lain-lain.

Syaukani berkomentar, “Seorang pakar tafsir, yaitu Ibnu Abbas, yang telah diajari oleh Allah tentang penafsiran Al Qur’an dan yang telah mendapatkan pengabulan doa Rasulullah agar menguasai bidang tafsir Al Qur’an ini, menjelaskan bahwa kata lams yang termaktub dalam ayat tersebut adalah berarti jima’. Penafsiran Ibnu Abbas yang seperti ini telah diakui oleh kalangan ulama sebagai penafsiran yang lebih rajih (kuat) dibandingkan dengan penafsiran ulama-ulama lainnya karena keistimewaan yang dimiliki tersebut.”

Syaikh Muhammad bin Shaleh Utsaimin hafizhahullah berkomentar, “Telah diriwayatkan secara shahih dari Ibnu Abbash, bahwasanya yang dimaksud dengan mulamasah dalam ayat itu ialah jima’. Dan ini merupakan hasil penafsiran orang yang lebih layak untuk diambil pendapatnya dalam bidang tafsir, kecuali kalau memang terbukti pendapatnya bertentangan dengan pendapat yang lebih rajih darinya.”

Penafsiran Ibnu Abbas yang seperti ini juga dikuatkan dengan fi’liyah (perbuatan) Nabi sebagaimana yang telah disebutkan dalam berbagai hadits shahih sebelumnya. Dalam hadits-hadits shahih tersebut telah dijelaskan bahwa beliau pernah menyentuh istrinya ketika beliau sedang shalat, namun beliau tidak mem-batalkan shalatnya. Sekiranya bersinggungan dengan istri itu membatalkan wudhu, niscaya beliau tidak akan meneruskan shalat beliau karena shalatnya batal.

Selain itu, juga tidak ada dalil yang menjelaskan bahwa sentuhan dengan lawan jenis yang membatalkan wudhu itu harus disertai dengan syahwat atau tidak disertai dengan syahwat. Atau menginterpretasikan (menafsirkan) bahwa sebenarnya sentuhan badan Nabi dengan badan istri beliau tidak secara langsung, tetapi di atas kain. Justru, secara tekstual hadits-hadits tersebut bertentangan dengan semua interpretasi (tafsiran) itu.

Telah diriwayatkan secara shahih bahwasanya Nabi mencium sebagian istrinya kemudian beliau pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat tapi beliau tidak berwudhu lagi. Hadits ini shahih karena mempunyai banyak syahid dan ini merupakan dalil yang dapat diterima.

Pada prinsipnya hukum sentuhan dengan lawan jenis itu tidak membatalkan wudhu sebelum ada dalil shahih yang dengan tegas menjelaskan atas batalnya wudhu tersebut. Sementara, kita tidak menemukan hadits shahih yang sharih (tegas) dan tidak pula menemukan hadits shahih yang tidak sharih yang mengharuskan orang yang habis menyentuh istri-nya berwudhu. Adapun ayat yang dipergunakan sebagai dalil (alasan) atas wajibnya wudhu bagi orang yang menyentuh perempuan sebenarnya tidak pada tempatnya.

Sesungguhnya thaharah (bersuci) itu telah ditetapkan berda-sarkan dalil syar’i. Apabila suatu hukum itu telah ditetapkan berdasarkan dalil syar’i, maka tidak bisa dihapus begitu saja, kecuali dengan dalil syar’i pula. Sementara, tidak ada dalil yang dapat menghapus atas ketetapan hukum tersebut.

Persoalan ini sebenarnya telah berkembang di masyarakat, sehingga sekiranya kami mewajibkan seseorang untuk berwudhu karena habis menyentuh lawan jenis, niscaya yang  demikian ini bisa menimbulkan kesulitan dan kesukaran. Dan sesuatu yang bisa menimbulkan kesulitan seperti itu harus ditiadakan secara syar’i.

Kami belum mengetahui suatu dalil yang shahih yang menerangkan bahwa sentuhan dengan lawan jenis yang dapat membatalkan wudhu itu dibatasi harus disertai dengan syahwat.

Adapun perempuan, ia sama seperti lelaki. Apabila ia mencium suaminya atau menyentuhnya dengan disertai syahwat sehingga ada sesuatu yang keluar dari farajnya, maka batal wudhunya. Batalnya wudhu perempuan karena yang demikian itu diqiyaskan atas batalnya wudhu laki-laki. Ini sesuai dengan naluri manusia. Dan ini merupakan qiyas yang jelas lagi jalli. Pada suatu ketika Imam Ahmad rahimahullah, pernah ditanya tentang perempuan yang menyentuh suaminya? Jawab Imam Ahmad, “Saya tidak mendengar sesuatu apa pun mengenai masalah ini, yang jelas ia adalah saudara kandung lelaki, namun saya suka jika ia berwudhu (kalau ada sesuatu yang keluar dari farajnya).

Sumber:

Buku Fiqih Mubasyarah Pengaruh Aktivitas Seksual terhadap Ibadah, Karya Dr. Abdul Aziz bin Mabruk Al Ahmadiy. Alih Bahasa Ghazali Mukri, Chusnul Ashari. Penerbit Media Hidayah, 2005.

Catatan :

  • Mubasyarah adalah bersetubuh, atau bercinta (dalam bahasa popular)

  • Tarjih adalah sebuah disiplin ilmu usul fikih untuk melakukan penilaian terhadap suatu dalil syar’i yang secara zahir tampak bertentangan untuk menentukan mana yang lebih kuat.

Komentar di sini saudara ku

Click to comment